Kebangkitan Kobbie Mainoo di Manchester United: Keputusan Michael Carrick yang Mengubah Segalanya
Richard Andreas | 9 Februari 2026 13:13
Bola.net - Kobbie Mainoo benar-benar hampir bergabung dengan Napoli. Minat klub Italia itu sempat menguat, muncul saat sang gelandang muda menjalani musim yang sulit dan nyaris terlupakan di Manchester United.
Untungnya, kenyataan berbicara lain. Di bawah arahan pelatih kepala baru, Michael Carrick, mimpi buruk Mainoo berakhir. Ia kembali dipercaya, kembali mengenakan merah, dan ikut mengantar Manchester United merangkai empat kemenangan beruntun di Premier League.
Kemenangan terbaru, skor 2-0 atas Tottenham Hotspur di Old Trafford, menjadi potret paling jelas perubahan itu. Meski kartu merah Cristian Romero membantu situasi, penampilan Mainoo di jantung lini tengah tetap menjadi pembeda utama.
Kembalinya Mainoo dan Perubahan Arah Manchester United

Perbaikan performa Manchester United dalam beberapa pekan terakhir bukan kebetulan. Ada dua perubahan besar yang langsung terlihat sejak Michael Carrick mengambil alih, yaitu peralihan formasi dari tiga bek ke empat bek, serta keputusan mengembalikan Kobbie Mainoo ke starting XI.
Kedua langkah itu saling terkait. Formasi empat bek memberi stabilitas, sementara kehadiran Mainoo membuat aliran bola di lini tengah kembali hidup. Dalam waktu singkat, United terlihat lebih tenang, lebih rapi, dan lebih terkontrol.
Sulit untuk tidak membandingkan situasi ini dengan era Ruben Amorim. Ada alasan untuk memahami tekanan yang dihadapi pelatih Portugal itu, tetapi tetap sulit menjelaskan mengapa Mainoo sempat tersingkir begitu lama.
Faktanya, Mainoo kini sudah mencatat menit bermain Premier League lebih banyak bersama Carrick musim ini dibandingkan seluruh masa di bawah Amorim.
Dominasi Mainoo di Lini Tengah

Sekilas, Mainoo bukan tipe pemain yang selalu mencuri sorotan. Namun justru di situlah nilainya. Ia mengendalikan tempo, menghubungkan lini, dan membuat keputusan yang sering luput dari perhatian.
Hal itu terlihat jelas pada gol pertama United ke gawang Tottenham. Skema sepak pojok pendek yang dipuji Carrick memang cerdas, tetapi eksekusinya bergantung pada detail kecil.
Pergerakan Mainoo dari tiang dekat menuju bendera sudut dilakukan dengan timing sempurna, sebelum ia melepas umpan tanpa melihat ke arah Bryan Mbeumo yang berujung gol pembuka.
Sentuhan seperti itu kerap ia lakukan sepanjang 90 menit. Sebagian besar tak tercatat di statistik, namun satu momen tersebut krusial karena membawa United unggul kurang dari sepuluh menit setelah Tottenham kehilangan Romero.
Carrick sendiri menegaskan pentingnya gol pembuka itu, menyebut keunggulan awal sebagai kunci untuk mengendalikan laga.
Kepercayaan Carrick dan Proses Pendewasaan Mainoo
Michael Carrick tak pernah ragu soal kualitas Mainoo. Usai laga, ia menekankan bahwa sang pemain masih sangat muda dan terus belajar memahami permainan di level tertinggi.
Menurut Carrick, Mainoo sempat mengalami fase ekstrem, yaitu dari sorotan besar ke periode minim bermain. Situasi itu kerap membuat publik lupa bahwa usia sang gelandang baru menginjak 20 tahun.
Meski sempat lama di bangku cadangan, Mainoo tak kehilangan sentuhan. Ia tetap mampu membelokkan bola sesuai kemauannya, baik lewat umpan pendek cerdas maupun flick halus di ruang sempit.
Salah satu sentuhan lembut di babak kedua bahkan membuka ruang bagi Diogo Dalot untuk mengirim umpan silang yang diselesaikan Bruno Fernandes menjadi gol kedua.
Carrick juga menyoroti proses belajar Mainoo di samping Casemiro. Banyak hal yang diserap sang pemain muda, bahkan tanpa ia sadari, sebagai bagian dari perjalanan perkembangannya.
Dari Old Trafford ke Pintu Timnas Inggris
Performa konsisten Mainoo kini memunculkan spekulasi baru, yaitu peluang masuk skuad Inggris untuk Piala Dunia. Ia sudah menyumbang assist saat United menang 3-2 di kandang Arsenal, dan terus menunjukkan grafik menanjak.
Jika performa ini berlanjut hingga jeda internasional Maret mendatang, akan sulit bagi pelatih Inggris, Thomas Tuchel, untuk mengabaikannya.
Terlebih, Mainoo bukan wajah asing di level internasional. Kurang dari dua tahun lalu, ia masih remaja saat menjadi starter di final Kejuaraan Eropa bersama timnas.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Kekalahan dari Man City Ekspos Rekor Buruk Liverpool yang Satu Ini
Liga Inggris 9 Februari 2026, 13:43
-
Hati-Hati Arsenal, Guardiola Tegaskan Man City Akan Terus Mengejar!
Liga Inggris 9 Februari 2026, 12:44
LATEST UPDATE
-
Melihat Permainan Barcelona dan Real Madrid: Sama Baiknya, tapi Beda Rasa
Liga Spanyol 9 Februari 2026, 15:46
-
Prediksi Roma vs Cagliari 10 Februari 2026
Liga Italia 9 Februari 2026, 15:34
-
Sebagus-bagusnya Arda Guler, Tetap Bukan Luka Modric!
Liga Spanyol 9 Februari 2026, 15:16
-
Cole Palmer Cetak Sejarah Baru Chelsea lewat Hattrick Keempatnya
Liga Inggris 9 Februari 2026, 14:17
-
Kekalahan dari Man City Ekspos Rekor Buruk Liverpool yang Satu Ini
Liga Inggris 9 Februari 2026, 13:43
-
Menpora Apresiasi Lompatan Besar Futsal dan Dominasi Tenis Indonesia pada Awal 2026
Tenis 9 Februari 2026, 13:00
-
Hati-Hati Arsenal, Guardiola Tegaskan Man City Akan Terus Mengejar!
Liga Inggris 9 Februari 2026, 12:44
-
Sassuolo vs Inter: Rating Pemain dari Banjir Gol di Markas Jay Idzes dan Kolega
Liga Italia 9 Februari 2026, 12:36
LATEST EDITORIAL
-
Gelimang Uang Tak Menjamin Bahagia, 4 Bintang Saudi Pro League Ini Katanya Tak Kerasan
Editorial 5 Februari 2026, 11:49
-
8 Kandidat Klub Baru Cristiano Ronaldo Jika Berpisah dengan Al Nassr, Balik ke MU?
Editorial 4 Februari 2026, 15:31
-
10 Pemain Bebas Transfer yang Masih Bisa Direkrut Klub-Klub Top Eropa
Editorial 4 Februari 2026, 14:57









