AC Milan vs Bologna: Dari San Siro ke Duel di Olimpico
Gia Yuda Pradana | 13 Mei 2025 15:06
Bola.net - Tengah pekan ini, AC Milan dan Bologna akan berduel di final Coppa Italia. Laga di Stadio Olimpico ini bukan sekadar soal trofi, melainkan soal harga diri, momentum, dan penentuan musim. Bagi kedua tim, inilah titik balik yang bisa mengubah narasi sepanjang tahun.
Pertemuan terakhir mereka di Serie A memberi isyarat akan panasnya duel ini. Milan bangkit dari ketertinggalan untuk menang 3-1 di San Siro lewat gol Santiago Gimenez dan Christian Pulisic. Itu bukan hanya kemenangan, tapi peringatan keras bagi Bologna.
Kini semua mata tertuju ke kota Roma, tempat trofi dipertaruhkan. Di antara banyak kisah yang menyelimuti partai ini, satu hal pasti: tak akan ada ruang untuk kesalahan.
Luka Lama, Ambisi Baru

Bologna jelas belum melupakan luka di San Siro. Unggul lebih dulu, mereka akhirnya tumbang dan impian ke Liga Champions pun terguncang. Riccardo Orsolini, sang pencetak gol, tak menutupi rasa kecewanya.
“Kami memberi mereka nyawa,” katanya. “Kalau main seperti itu di Roma, kami bisa habis.” Ucapan yang memperlihatkan tekad sekaligus kekhawatiran.
Orsolini dan kawan-kawan ingin membalikkan keadaan dengan cepat. Bagi mereka, balas dendam paling nikmat bukanlah yang dingin, melainkan yang membara di final.
Balas Dendam Theo dan Leao

Tak hanya Bologna yang menyimpan dendam. Theo Hernandez dan Rafael Leao punya urusan yang belum selesai di Olimpico. Saat ditahan 2-2 oleh Roma September lalu, keduanya jadi sorotan karena tak ikut mendekat ke pelatih saat cooling break.
Kini, mereka kembali ke stadion itu dengan misi pribadi. Leao, yang absen di laga Serie A karena sanksi, siap tampil sejak awal. Dia ingin menulis sejarah, bukan hanya jadi figuran seperti di Supercoppa.
Theo dan Leao punya ambisi besar: membawa Milan meraih trofi ketiga mereka bersama klub. Kali ini, tak ada ruang untuk adegan pasif. Mereka ingin jadi aktor utama.
Coppa yang Lama Hilang

Terakhir kali Milan mengangkat Coppa Italia, tahun 2003. Sudah 22 tahun berlalu sejak kemenangan atas Roma itu. Sejak mencapai final terakhirnya pun bahkan sudah tujuh tahun.
Kali ini, bukan Juventus yang hadir sebagai penghalang. Sang rival tersingkir lebih awal oleh Empoli. Sebuah peluang terbuka lebar bagi Milan untuk menuntaskan penantian panjang.
Formasi, Taktik, dan Percikan Magis

Milan kini tampil dengan sistem tiga bek dan hasilnya mulai terasa. Dalam enam laga dengan skema itu, hanya tiga gol bersarang di gawang mereka. Namun, kemenangan atas Genoa dan Bologna datang dari perubahan formasi di tengah laga.
Sergio Conceicao tak kaku. Dia fleksibel dan paham kapan harus menyesuaikan taktik. Kunci permainan pun datang dari bangku cadangan, seperti Joao Felix dan Santiago Gimenez.
Leao akan kembali jadi starter dan ini bisa berarti sedikit penyesuaian lagi. Akan tetapi, kepercayaan pada sistem dan pelatih tetap utuh di ruang ganti. Itu modal besar Milan di partai puncak.
Panggung Milik Leao dan Pulisic?

Rafael Leao akan tampil di final Coppa Italia untuk pertama kalinya sejak menit awal. Di Supercoppa, dia hanya jadi supersub. Kini, dia ingin mencetak gol dan menciptakan momen abadi untuk klub.
Christian Pulisic juga tak kalah tajam. Dia mencetak gol kemenangan di Serie A lalu dan statistiknya musim ini mengesankan. Dengan 11 gol, dia jadi pemain non-striker pertama yang tembus dua digit dalam dua musim beruntun sejak era Chiarugi.
Duo ini jadi sumber kreativitas utama. Menariknya, mereka juga punya kontribusi ganda: total 40 gol dan assist sejak musim lalu. Kombinasi yang bisa menghancurkan pertahanan mana pun, termasuk Bologna.
Orsolini, Pemimpin dan Pemicu

Di kubu Bologna, Riccardo Orsolini jadi nyawa permainan. Dia sudah mencetak 15 gol musim ini dan melayani tim dengan total 18 kontribusi gol. Dia juga kapten tim, bukti statusnya sebagai panutan di lapangan.
Isunya bahkan berkembang: Orsolini diincar Milan untuk musim depan. Jika benar, malam final bisa jadi semacam audisi pribadi baginya. Namun, Samuel Chukwueze yang kemungkinan dia gantikan pun tampil baik belakangan ini.
Bologna tak hanya bergantung pada Orsolini. Mereka punya bangku cadangan berisi pemain-pemain pengubah permainan. Siapa yang memulai, mungkin tak sepenting siapa yang mengakhirinya.
Raja Comeback, Raja Piala

Milan adalah raja comeback musim ini di Serie A. Dengan 22 poin dari posisi tertinggal, mereka jadi tim paling tangguh dalam mengejar ketertinggalan. Sebanyak 19 poin itu diraih saat Sergio Conceicao memimpin.
Hanya Atletico Madrid yang lebih baik di lima liga top Eropa. Namun, Milan tak ingin tertinggal lebih dulu lagi, terutama di laga final. Sekali lengah bisa jadi fatal.
Conceicao sendiri memang spesialis piala. Dia pernah mengangkat tujuh trofi sebagai pemain dan delapan lagi sebagai pelatih. Musim ini, dia sudah memberi Milan satu dan bisa menambah satu lagi.
Italiano, Nasib Si Runner-up

Di sisi lain, Vincenzo Italiano belum berdamai dengan nasibnya. Dia terus jadi runner-up di berbagai final. Coppa Italia, Conference League—semuanya berujung tangis, bukan tawa.
Sebagai pemain, trofinya pun minim. Sekarang, peluang untuk menebus semua itu ada di depan mata. Namun, itu tidak bakal mudah.
Dari pertemuan terakhir, Bologna kurang difavoritkan. Akan tetapi, seperti lazimnya di dunia sepak bola, apa pun bisa terjadi dalam satu laga final.
Sumber: SempreMilan
Baca Artikel-artikel Menarik Lainnya:
- Kala Tinta di Kertas Bernilai Triliunan: Kontrak-kontrak Termahal Pemain Sepak Bola
- Perlawanan Terakhir Real Madrid
- Ballon d'Or: Medan Pertarungan Abadi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo
- AC Milan, Bologna, dan Akhir Sebuah Penantian Panjang di Kota Roma
- 2 'Tiket Neraka' Serie A: Jay Idzes dan Perjuangan Menahan Tenggelamnya Venezia
- Prediksi Real Madrid vs Real Mallorca 15 Mei 2025
- Prediksi AC Milan vs Bologna 15 Mei 2025
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Man of the Match Milan vs Genoa: Lorenzo Colombo
Liga Italia 9 Januari 2026, 07:11
-
Man of the Match Real Madrid vs Atletico Madrid: Federico Valverde
Liga Spanyol 9 Januari 2026, 07:04
-
Rapor Pemain Liverpool: Performa Solid Bikin Arsenal Kehilangan Taji
Liga Inggris 9 Januari 2026, 06:07
-
Hasil Milan vs Genoa: Akhir Dramatis yang Menguntungkan Inter Milan
Liga Italia 9 Januari 2026, 06:00
-
Rapor Pemain Arsenal: Gyokeres Gagal Bersinar Saat The Gunners Ditahan Liverpool
Liga Inggris 9 Januari 2026, 05:50
LATEST UPDATE
-
Nonton Live Streaming Pertandingan Proliga 2026 di MOJI Hari Ini, 9 Januari 2026
Voli 9 Januari 2026, 09:43
-
Arteta Kecewa tapi Bangga: Arsenal Perlebar Jarak Jadi 6 Poin Meski Imbang
Liga Inggris 9 Januari 2026, 09:36
-
Catatan Menarik Arsenal vs Liverpool: The Reds Jadi Batu Sandungan The Gunners
Liga Inggris 9 Januari 2026, 09:34
-
Jadwal Lengkap Proliga 2026, 8 Januari-26 April 2026
Voli 9 Januari 2026, 09:21
-
AC Milan dan Pelajaran Mahal Tentang Kedewasaan
Liga Italia 9 Januari 2026, 08:55
-
Jadwal Lengkap Malaysia Open 2026, 6-11 Januari 2026
Bulu Tangkis 9 Januari 2026, 08:50
-
Kapan El Clasico di Final Piala Super Spanyol 2026: Barcelona vs Real Madrid
Liga Spanyol 9 Januari 2026, 08:37
-
Jadwal Barca vs Madrid di Final Piala Super Spanyol 2026
Liga Spanyol 9 Januari 2026, 08:07
-
PSM vs Bali United: Tekad Pasukan Ramang Hentikan Tren Buruk
Bola Indonesia 9 Januari 2026, 07:44
-
Hasil Lengkap, Klasemen, Jadwal dan Top Skor Serie A 2025/2026
Liga Italia 9 Januari 2026, 07:41
-
Man of the Match Milan vs Genoa: Lorenzo Colombo
Liga Italia 9 Januari 2026, 07:11
LATEST EDITORIAL
-
Peringkat 9 Manajer Manchester United Setelah Sir Alex Ferguson, Siapa Terbaik?
Editorial 7 Januari 2026, 13:52
-
4 Mantan Bintang Man United yang Pernah Jadi Pelatih Sementara di Old Trafford
Editorial 7 Januari 2026, 12:55
-
4 Pemain Gratis yang Bisa Direkrut Manchester United Musim Depan
Editorial 5 Januari 2026, 15:52
-
Prediksi Starting XI Chelsea di Bawah Liam Rosenior: Revolusi Taktik Dimulai
Editorial 5 Januari 2026, 15:25
-
7 Pemain yang Pernah Menangis Karena Jose Mourinho, Ada Cristiano Ronaldo
Editorial 5 Januari 2026, 13:58


