Alarm Perlambatan Kredit Berbunyi, OJK Tegaskan Perbankan RI Tetap Kokoh

Editor Bolanet | 26 Agustus 2025 10:00
Alarm Perlambatan Kredit Berbunyi, OJK Tegaskan Perbankan RI Tetap Kokoh
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae usai Peluncuran Roadmap Bank Pembangunan Daerah (BPD) 2024-2027, di Jakarta, Senin (14/10/2024) lalu. (c) Liputan6.com/Arief RH

Bola.net - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan ketahanan sektor perbankan nasional tetap solid. Hal ini terjadi di tengah dinamika ketidakpastian ekonomi global maupun domestik.

Salah satu indikator utama yang menjadi sorotan adalah tren perlambatan penyaluran kredit. Meskipun demikian, otoritas memastikan pertumbuhan kredit tetap berlanjut pada jalur yang positif.

Advertisement

Kualitas aset perbankan pun dilaporkan terus membaik. Hal ini tercermin dari kemampuan industri menekan nominal kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL).

Menariknya, di tengah tren perlambatan umum, bank-bank skala kecil menunjukkan kinerja yang anomali. Kelompok bank ini, terutama yang berafiliasi dengan ekosistem digital, justru mencatatkan pertumbuhan kredit yang impresif.

Fenomena ini mengindikasikan adanya pergeseran strategi dan adaptasi model bisnis di dalam industri. Kemampuan bank-bank kecil merespons kebutuhan pasar menjadi faktor pembeda yang signifikan.

Lebih jauh, fundamental yang kokoh pada aspek likuiditas dan permodalan menjadi bantalan utama. Hal ini didukung oleh hasil uji tekan (stress test) yang mengonfirmasi kemampuan perbankan dalam menyerap potensi risiko ke depan.

1 dari 3 halaman

Kualitas Aset Terjaga dan Kinerja Impresif Bank Kecil

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyatakan bahwa perlambatan kredit tidak menggerus kesehatan industri. Kualitas kredit secara agregat justru menunjukkan perbaikan yang berkelanjutan.

Hal ini dibuktikan dengan menurunnya rasio NPL gross. Penurunan tersebut didorong oleh keberhasilan perbankan dalam menekan nominal kredit bermasalah.

“Meski melambat, namun kredit perbankan masih tetap tumbuh. Selain itu, nominal kredit bermasalah mampu ditekan yang mendorong penurunan NPL gross,” kata Dian dalam jawaban tertulisnya, Selasa (26/8/2025).

Secara spesifik, kinerja positif justru datang dari kelompok bank dengan modal inti lebih kecil (KBMI 1 dan KBMI 2). Bank-bank dalam kategori ini berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit yang solid secara tahunan.

2 dari 3 halaman

Likuiditas dan Permodalan Solid Jadi Bantal Pengaman

Ketahanan perbankan nasional juga ditopang oleh posisi likuiditas yang sangat memadai. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) dan dana pihak ketiga (AL/DPK) berada jauh di atas ambang batas ketentuan.

Sebagai contoh, per Juni 2025, bank KBMI 1 mencatatkan rasio AL/NCD sebesar 177,13% dan AL/DPK 34,38%. Angka ini menunjukkan ruang yang lebih dari cukup bagi bank untuk mengelola kewajiban jangka pendeknya.

Di sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) juga berada di level yang sangat kuat. Tingginya rasio CAR ini menjadi penyerap utama jika terjadi potensi risiko yang tidak terduga.

“Ketahanan bank pada kelompok KBMI 1 dan KBMI 2 masih cukup kuat dengan rasio CAR yang jauh di atas threshold yaitu 30,75% dan 36,56% yang diharapkan mampu menjadi buffer dalam menyerap potensi risiko,” ujarnya.

3 dari 3 halaman

Uji Tekan Konfirmasi Ketahanan Sistemik

Untuk memastikan kesiapan industri dalam menghadapi berbagai skenario tekanan, OJK secara rutin melaksanakan uji tekan. Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur ketahanan perbankan secara sistemik.

Uji ketahanan ini juga dilakukan secara mandiri oleh masing-masing bank. Skenario dan asumsi yang digunakan disiapkan bersama oleh otoritas, termasuk OJK dan Bank Indonesia.

Hasil dari serangkaian stress test tersebut menunjukkan kesimpulan yang positif. Permodalan industri perbankan saat ini dinilai masih sangat memadai untuk menghadapi risiko dari perubahan signifikan dalam kondisi makroekonomi.

“Untuk mengukur ketahanan bank dalam menghadapi berbagai potensi shocks makro ekonomi, OJK secara rutin melakukan stress test untuk mengevaluasi ketahanan perbankan Indonesia,” pungkas Dian.

TAG TERKAIT

LATEST UPDATE