Fenomena Rojali dan Rohana: Tanda Ekonomi Lesu atau Sekadar Perilaku Baru?
Editor Bolanet | 11 Agustus 2025 10:44
Bola.net - Dunia ritel dihebohkan oleh munculnya fenomena "Rojali" dan "Rohana". Istilah ini merujuk pada Rombongan Jarang Beli dan Rombongan Hanya Nanya.
Kedua istilah ini menggambarkan perilaku pengunjung pusat perbelanjaan yang datang namun tidak melakukan transaksi. Banyak pelaku usaha yang mengeluhkan meningkatnya tren ini.
Fenomena tersebut lantas memicu pertanyaan besar di kalangan publik. Apakah ini menjadi sinyal bahwa daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat sedang tidak baik-baik saja?
Namun, sejumlah pengamat memiliki pandangan yang berbeda. Mereka menilai fenomena ini bukan sebagai penanda melemahnya konsumsi secara umum.
Menurut mereka, ini lebih merupakan cerminan dari perubahan perilaku konsumen. Terutama setelah era pandemi yang mengubah banyak kebiasaan masyarakat.
Konsumen kini dinilai menjadi lebih berhati-hati dan selektif sebelum memutuskan untuk membeli. Mari kita telusuri lebih dalam pandangan para ahli mengenai fenomena unik ini.
Adaptasi Pola Konsumsi Pascapandemi
Pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita, menilai fenomena ini sebagai hal yang wajar. Menurutnya, ini adalah hasil dari evolusi perilaku konsumen.
Ia berpendapat bahwa konsumen saat ini menjadi jauh lebih terinformasi. Peningkatan literasi digital membuat mereka cenderung melakukan survei harga terlebih dahulu.
"Perkara Rojali dan Rohana, dalam hemat saya, hanya sebagai fenomena akibat perubahan perilaku konsumen saja. Bahkan di sektor informal, penjualan membaik," kata Ronny, dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/8/2025).
Menariknya, di tengah maraknya fenomena ini, data justru menunjukkan adanya perbaikan di sektor informal. Sektor ritel modern secara umum juga tidak menunjukkan adanya tekanan yang berarti.
"Di sektor ritel, secara umum tak terjadi tekanan berarti. Hal itu bisa dilihat dari data penjualan ritel dari Bank Indonesia yang masih terpantau stabil," ujarnya.
Pasar Unik dan "Lipstick Index"
Pandangan lain datang dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Analis Kebijakan Ekonomi Apindo, Ajib Hamdani, menilai fenomena ini mencerminkan keunikan pasar Indonesia.
Namun, ia mengingatkan agar situasi ini tidak dilihat secara sepihak. Ada sebuah konsep menarik yang bisa menjelaskan perilaku konsumen saat ini.
"Terkait fenomena Rojali-Rohana, memang pasar Indonesia ini unik, tapi jangan lupa bahwa kita ini ada namanya Lipstick Index," kata Ajib saat ditemui di kantor APINDO, Jakarta, Kamis (31/7/2025).
Konsep Lipstick Index merujuk pada kecenderungan masyarakat yang tetap membelanjakan uangnya untuk produk tersier atau hiburan. Perilaku ini tetap terjadi meskipun daya beli secara umum dirasakan menurun.
"Misalnya begini, teman-teman bisa lihat kalau kita menonton bola atau kalau ada konser-konser, tiket baru keluar saja biasanya kehabisan," ujarnya.
Strategi Industri Ritel Hadapi Perubahan
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) juga angkat bicara. Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja, menegaskan bahwa fenomena Rojali dan Rohana bukanlah sesuatu yang baru.
Menurutnya, kehadiran pengunjung yang hanya melihat-lihat merupakan bagian dari dinamika alami. Hal ini sejalan dengan perubahan fungsi pusat perbelanjaan itu sendiri.
"Jadi, Rojali itu bukan sesuatu yang baru begitu. Hanya saja memang intensitasnya kadang turun, kadang naik begitu. Tergantung faktor-faktor yang mempengaruhi," kata Alphonzus dalam konferensi pers ISF 2025, di Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Ia pun optimistis bahwa berbagai inisiatif dapat membangkitkan kembali gairah belanja masyarakat. Salah satunya adalah melalui gelaran Indonesia Shopping Festival (ISF) 2025.
Acara tersebut diharapkan dapat menjadi momentum penting untuk mengurangi intensitas fenomena Rojali dan Rohana. Sekaligus mendorong kembali aktivitas transaksi di pusat-pusat perbelanjaan.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Apakah Ada Kenaikan Gaji PNS 2026? Ini Kata Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
News 2 Januari 2026, 09:48
-
Lowongan Kerja Shopee Indonesia: Posisi Campaign Marketing Entry Level
News 31 Desember 2025, 20:42
-
Datang ke Sidang Cerai dengan Ekspresi Tenang, Atalia Praratya: Mohon Doanya Saja
News 31 Desember 2025, 20:38
-
Mendagri Pastikan Pemerintah Berikan Segalanya untuk Penanganan Bencana
News 31 Desember 2025, 15:45
LATEST UPDATE
-
Mimpi-mimpi Mitchell Baker: Bermain di Piala Dunia dan Premier League
Tim Nasional 31 Oktober 2026, 23:47
-
Kata-kata Michael Carrick Usai Manchester United Dihajar Chelsea
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 22:39
-
Lisandro Martinez yang Konyol!
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 22:02
-
Halloween untuk MU: Kalah dari Chelsea, Setan Merah Ukir Rekor Terburuk Sejak 1988!
Liga Inggris 31 Oktober 2026, 21:47
-
Ketika Vinicius Junior Justru Dianggap Masalah bagi Real Madrid
Liga Spanyol 31 Oktober 2026, 20:19
-
Statistik Ini Jadi Bukti Nyata Bernardo Silva Ubah Permainan Real Madrid
Liga Spanyol 31 Oktober 2026, 19:45
-
Strategi Cerdas Marc Marquez Sprint Race MotoGP Malaysia 2026: Pantang Memimpin Balapan!
Otomotif 31 Oktober 2026, 19:14
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18




