Indonesia Darurat Penipuan: Scam Makin Masif Incar Semua Kalangan, Kerugian Tembus Rp4,6 Triliun

Editor Bolanet | 19 Agustus 2025 13:22
Indonesia Darurat Penipuan: Scam Makin Masif Incar Semua Kalangan, Kerugian Tembus Rp4,6 Triliun
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi dalam acara Kampanye Nasional Berantas Scam dan Aktivitas Keuangan Ilegal. (c) Liputan6.com/Tira

Bola.net - Kerugian masyarakat Indonesia akibat penipuan daring mencapai angka yang sangat signifikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total kerugian telah menembus Rp4,6 triliun.

Angka fantastis tersebut terakumulasi dalam kurun waktu yang terbilang singkat. Data ini dihimpun sejak Indonesia Anti-Scam Center (IASC) resmi beroperasi pada November tahun lalu.

Advertisement

Pencapaian nilai kerugian ini jauh melampaui proyeksi awal yang telah diperhitungkan. Hal tersebut mengindikasikan skala masalah penipuan yang lebih besar dari dugaan semula.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyoroti betapa cepatnya angka kerugian ini membengkak. Besarnya nominal kerugian ini menjadi sebuah peringatan serius bagi seluruh pihak.

Fenomena ini menjadi alarm keras bahwa kejahatan digital di sektor keuangan berjalan semakin sistematis. Pelaku kini tidak hanya menyasar masyarakat dengan tingkat pendidikan tertentu, tetapi juga kalangan profesional.

Rendahnya literasi keuangan digital di tengah masifnya adopsi teknologi menjadi celah utama. Situasi ini mendorong perlunya edukasi berkelanjutan agar masyarakat tidak terus menjadi korban.

1 dari 2 halaman

Skala Masif dan Laporan yang Membludak

Sejak pertama kali beroperasi, IASC telah menjadi wadah utama bagi masyarakat untuk melaporkan kasus penipuan. Total laporan yang diterima hingga kini telah mencapai 225 ribu aduan.

Dari ratusan ribu laporan tersebut, langkah konkret telah diambil dengan cepat. Sebanyak 72 ribu rekening telah berhasil diblokir secara langsung oleh otoritas terkait.

Lebih lanjut, identifikasi mendalam menunjukkan adanya jaringan yang lebih luas dari sekadar rekening yang diblokir. Total terdapat 359 ribu rekening yang teridentifikasi terlibat dalam berbagai aktivitas penipuan.

"Jumlah laporan yang diterima sebanyak 225 ribu laporan, jumlah rekening yang langsung kita blokir 72 ribu, kemudian yang dilaporkan rekeningnya 359 ribu rekening," ujar Friderica Widyasari Dewi.

Volume laporan harian yang masuk ke IASC juga menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Setiap harinya, pusat anti-penipuan ini menerima sekitar 700 hingga 800 laporan baru, jauh melampaui negara tetangga seperti Singapura.

2 dari 2 halaman

Modus Beragam dan Tanggung Jawab Bersama

Para pelaku penipuan terus mengembangkan modus operandinya seiring dengan perkembangan tren digital. Bentuk penipuan yang dilaporkan masyarakat pun sangat beragam dan terus berevolusi.

Beberapa modus yang paling sering dilaporkan mencakup love scam atau penipuan berkedok asmara dan penawaran lowongan kerja palsu. Selain itu, modus phishing melalui aplikasi perbankan hingga penipuan di marketplace juga marak terjadi.

Perempuan yang akrab disapa Kiki tersebut juga memaparkan variasi modus lain yang menjerat korban. Termasuk di antaranya adalah penipuan yang berkaitan dengan aset kripto.

"Kemudian tidak sengaja transfer, tidak sengaja mereka kena scam, mungkin love scam, tawaran pekerjaan, dan lain-lain, itu masuknya diadukan ke Indonesia Anti-Scam Center yang juga merupakan milik seluruh satgas tersebut," pungkasnya.

Oleh karena itu, OJK menegaskan bahwa tanggung jawab untuk memberantas praktik ini tidak hanya berada di pundak regulator. Pelaku industri seperti perbankan, fintech, perusahaan efek, dan marketplace juga harus turut mengambil peran aktif dalam melindungi konsumennya.

TAG TERKAIT

LATEST UPDATE