Saat Negara Maju Krisis Pangan, Indonesia Justru Berhasil Tekan Harga Beras

Editor Bolanet | 25 Agustus 2025 11:56
Saat Negara Maju Krisis Pangan, Indonesia Justru Berhasil Tekan Harga Beras
Ketahanan Pangan Teruji: Produksi Tembus 35 Juta Ton, RI Tak Perlu Impor Beras. (c) ilustrasi dibuat ai

Bola.net - Indonesia menunjukkan resiliensi sektor pangan yang kuat di tengah krisis global. Pemerintah memastikan tidak ada impor beras yang dilakukan sepanjang tahun ini.

Capaian ini menjadi catatan penting, terutama saat sejumlah negara maju justru menghadapi lonjakan harga beras. Fenomena ini menegaskan keberhasilan strategi peningkatan produksi dalam negeri.

Advertisement

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa keberhasilan ini patut disyukuri. Fondasi utamanya adalah kekuatan produksi beras nasional yang terus menunjukkan tren peningkatan.

Kondisi ini didukung oleh data produksi yang solid serta tingkat cadangan beras pemerintah yang mencapai rekor tertinggi. Hal ini memberikan keyakinan bahwa pasokan domestik sangat mencukupi kebutuhan nasional.

Keberhasilan dalam menjaga swasembada ini diikuti oleh upaya stabilisasi harga di tingkat konsumen. Kombinasi antara pasokan melimpah dan intervensi pasar yang efektif menjadi kunci utama dalam strategi pangan nasional saat ini.

1 dari 3 halaman

Peningkatan Produksi dan Stok Cadangan Nasional

Proyeksi produksi beras nasional untuk tahun 2025 menunjukkan lonjakan yang signifikan. Berdasarkan data gabungan FAO, USDA, dan BPS, produksi diperkirakan mencapai 33,8 hingga 35,6 juta ton.

Angka ini meningkat dari realisasi produksi tahun 2024 yang tercatat sebesar 30,62 juta ton. Peningkatan output ini menjadi basis utama pemerintah untuk menghentikan keran impor beras tahun ini.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur stok beras dalam negeri sangat cukup, sehingga tahun ini kita tidak impor beras. Hingga Agustus ini stok beras aman dan produksi on the track terus meningkat," kata Mentan Andi Amran Sulaiman, dikutip dari Antara, Senin (25/8/2025).

Di sisi cadangan, stok beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog kini berada di level 4,2 juta ton. Angka ini merupakan rekor tertinggi dalam 57 tahun terakhir, berbanding jauh dengan stok tahun lalu yang hanya sekitar 1 juta ton.

2 dari 3 halaman

Strategi Intervensi Pasar untuk Stabilisasi Harga

Pemerintah juga berhasil menekan harga beras di tingkat ritel yang sebelumnya sempat mengalami kenaikan. Data Badan Pangan Nasional menunjukkan harga beras medium dan premium berangsur turun di 15 provinsi.

Keberhasilan ini merupakan hasil dari intervensi pasar melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Operasi pasar ini digencarkan oleh Perum Bulog bersama TNI/Polri dan instansi terkait lainnya.

Saat ini, Bulog menyalurkan sekitar 6.000 ton beras SPHP setiap harinya ke seluruh Indonesia. Volume distribusi ini direncanakan akan ditingkatkan menjadi 7.000 hingga 10.000 ton per hari hingga akhir tahun.

“Saya optimistis harga akan semakin stabil dalam beberapa minggu ke depan, seiring penguatan distribusi beras SPHP,” tutur Mentan.

3 dari 3 halaman

Kontras Kondisi Global dan Proyeksi ke Depan

Capaian ketahanan pangan Indonesia menjadi kontras jika dibandingkan dengan situasi di negara lain. Menteri Pertanian mencontohkan Jepang yang mengalami lonjakan harga beras hingga 90,7 persen pada Juli 2025.

Keberhasilan ini membalikkan kondisi beberapa tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, Indonesia terpaksa mengimpor 7 juta ton beras pada 2023 dan sekitar 3 hingga 4 juta ton pada 2024.

“Kini, stok kita tertinggi dalam sejarah, dan dunia mengakui ketahanan pangan Indonesia. FAO dan Departemen Pertanian Amerika memuji capaian ini,” ungkap Mentan.

Pemerintah optimistis pasokan akan semakin kuat dengan adanya panen kedua pada September 2025. Dengan total target penyaluran SPHP mencapai 1,3 juta ton hingga Desember, masyarakat diimbau tidak perlu khawatir akan ketersediaan beras.

TAG TERKAIT