7 Kontroversi Gianni Infantino Selama Memimpin FIFA: Dari Qatar, Arab Saudi hingga Hubungan dengan Donald Trump
Asad Arifin | 31 Juli 2026 18:26
Bola.net - Gianni Infantino terpilih sebagai Presiden FIFA pada 2016 saat organisasi tersebut berupaya memulihkan citra usai diterpa skandal korupsi. Dalam satu dekade kepemimpinannya, FIFA mencatat pertumbuhan pendapatan yang signifikan sekaligus menuai berbagai kontroversi.
Di bawah kepemimpinannya, FIFA memperluas skala bisnis sepak bola dunia melalui sejumlah kebijakan strategis. Namun, berbagai keputusan yang diambil juga memicu kritik dari banyak pihak.
Kontroversi yang mengiringi Infantino tidak hanya menyangkut penyelenggaraan turnamen. Investigasi etik, hubungan dengan tokoh politik, hingga kebijakan komersial FIFA ikut menjadi sorotan.
Berikut tujuh kontroversi terbesar yang mewarnai perjalanan Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA.
Terpilih di Tengah Krisis FIFA

Sebelum memimpin FIFA, Infantino merupakan salah satu petinggi UEFA. Ia kemudian maju dalam pemilihan Presiden FIFA setelah Sepp Blatter mengundurkan diri.
Infantino akhirnya mengalahkan Sheikh Salman Bin Ibrahim al-Khalifa pada pemilihan 2016. Kemenangan itu membawa harapan baru bagi reformasi FIFA.
Ia datang dengan janji memperbaiki tata kelola organisasi. Namun, sejumlah kontroversi justru muncul tidak lama setelah ia menjabat.
Sejak saat itu, kepemimpinannya terus berada dalam sorotan publik sepak bola dunia.
Diselidiki Komite Etik FIFA

Pada 2016, Infantino diperiksa terkait penggunaan dua penerbangan jet pribadi. Ia kemudian dinyatakan tidak bersalah oleh Komite Etik FIFA.
Kontroversi berlanjut ketika muncul tuduhan adanya campur tangan dalam perubahan struktur Komite Etik FIFA. Sejumlah mantan pejabat mempertanyakan independensi badan tersebut.
Infantino juga diselidiki terkait pertemuannya dengan Jaksa Agung Swiss Michael Lauber. Pertemuan itu berlangsung pada 2016 dan 2017.
Komite Etik FIFA kembali membebaskannya dari tuduhan pada Agustus 2020. Meski demikian, kasus tersebut tetap menjadi bagian dari kontroversi masa kepemimpinannya.
Pernyataan Kontroversial soal Piala Dunia Qatar

Infantino menjadi sorotan menjelang Piala Dunia 2022 di Qatar. Ia membela negara tuan rumah dari kritik mengenai isu hak asasi manusia.
Menurutnya, negara-negara Barat tidak memiliki posisi moral untuk menghakimi Qatar. Pernyataan itu memicu perdebatan luas.
“Saya orang Eropa. Atas apa yang telah kita lakukan di seluruh dunia selama 3.000 tahun terakhir, kita seharusnya meminta maaf untuk 3.000 tahun berikutnya sebelum mulai memberikan pelajaran moral kepada orang-orang,” kata Infantino.
Ia juga menilai banyak negara Barat tetap menjalin hubungan ekonomi dengan Qatar. Sikap tersebut dianggap sebagai bentuk kemunafikan.
Polemik Penunjukan Arab Saudi jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2034

Hubungan FIFA dengan Arab Saudi semakin erat melalui sejumlah kerja sama komersial. Salah satunya adalah kemitraan global dengan Aramco.
Kontroversi muncul ketika Arab Saudi menjadi satu-satunya kandidat kuat tuan rumah Piala Dunia 2034. FIFA sebelumnya hanya membuka proses bidding untuk negara Asia dan Oseania.
Infantino bahkan sudah mengucapkan selamat kepada Arab Saudi sebelum proses pemungutan suara selesai. Langkah itu memicu kritik.
Banyak pihak menilai proses pemilihan tuan rumah tidak berlangsung secara kompetitif. Namun, FIFA tetap melanjutkan proses tersebut.
Hadiah Perdamaian untuk Donald Trump

Infantino kembali menuai kontroversi setelah memberikan Hadiah Perdamaian FIFA kepada Donald Trump. Penghargaan itu diperkenalkan sebagai program baru FIFA.
Keputusan tersebut menuai kritik karena keduanya diketahui memiliki hubungan yang dekat. Banyak pihak mempertanyakan dasar pemberian penghargaan tersebut.
Infantino sebelumnya juga mendukung nominasi Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian. Sikap itu menimbulkan perdebatan mengenai independensi FIFA.
Trump akhirnya menerima penghargaan tersebut pada Desember 2025. Momen itu kembali memancing kritik dari berbagai kalangan.
Ekspansi Piala Dunia dan Lonjakan Pendapatan

Di era Infantino, FIFA mencatat peningkatan pendapatan yang sangat besar. Salah satu penyebabnya adalah ekspansi Piala Dunia menjadi 48 peserta.
Infantino menjadikan perluasan jumlah peserta sebagai salah satu agenda utama. Bahkan muncul wacana untuk kembali menambah jumlah tim menjadi 64.
Pendukung menilai kebijakan tersebut membuka peluang bagi lebih banyak negara. Sebaliknya, kritik menyebut langkah itu lebih menguntungkan secara politik dan bisnis.
Ekspansi tersebut menjadi salah satu kebijakan paling diperdebatkan selama masa kepemimpinan Infantino. Dampaknya masih menjadi bahan diskusi hingga kini.
Rencana Menjual Sebagian Hak Komersial Piala Dunia

Kontroversi terbaru muncul lewat pembentukan FIFA Forward Enterprise. Perusahaan itu disiapkan untuk menarik investasi baru bagi FIFA.
FIFA berencana menjual saham minoritas kepada investor melalui entitas tersebut. Langkah itu memunculkan kekhawatiran dari berbagai pihak.
Laporan yang beredar menyebut nilai perusahaan bisa mencapai sekitar 20 miliar dolar AS. Sejumlah investor besar disebut tertarik bergabung.
Kebijakan tersebut memicu perdebatan mengenai masa depan pengelolaan sepak bola dunia. Banyak pihak khawatir aspek bisnis akan semakin mendominasi olahraga ini.
Sumber: Sportingnews
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Borussia Monchengladbach Ungkap Penyebab Hilangnya Kevin Diks pada 2 Laga Beruntun
Tim Nasional 28 Oktober 2026, 19:42
-
Kedewasaan Como yang Makin Teruji
Liga Italia 28 Oktober 2026, 17:09
-
Kinerja Jose Mourinho yang Memuaskan
Liga Spanyol 27 Oktober 2026, 21:16
LATEST UPDATE
-
Hasil Pakhtakor vs Al Nassr: Tanpa Cristiano Ronaldo, Joao Felix Pimpin Pesta Gol
Asia 3 November 2026, 00:05
-
Barcelona Buka Peluang Jual Jules Kounde, Chelsea Mulai Pelajari Situasinya
Liga Spanyol 2 November 2026, 21:50
-
Hansi Flick Buka Suara soal Situasi Alejandro Balde di Barcelona
Liga Spanyol 2 November 2026, 21:36
-
Real Madrid Putuskan Tidak Belanja pada Januari Meski Lini Tengah Butuh Tambahan
Liga Spanyol 2 November 2026, 21:10
-
Kondisi MU Belum Membaik, Eddie Howe Segera Diangkat Jadi Manajer MU?
Liga Inggris 2 November 2026, 21:06
-
Hansi Flick Tegaskan Barcelona Tak Akan Remehkan Aston Villa di Liga Champions
Liga Champions 2 November 2026, 20:54
-
Kabar Terbaru JJ Gabriel: Jadinya Gabung Real Madrid?
Liga Inggris 2 November 2026, 20:42
-
Thibaut Courtois Ukir Rekor Istimewa di Real Madrid: Kebanggaan Luar Biasa
Liga Spanyol 2 November 2026, 20:30
-
Jelang Lawatan ke Old Trafford, AS Roma Tebar Psywar ke Manchester United
Liga Champions 2 November 2026, 20:22
-
Tinggalkan MU, Bruno Fernandes Menuju ke Arab Saudi?
Liga Inggris 2 November 2026, 20:10
-
Luciano Spalletti Berharap Kemenangan atas Napoli Pulihkan Kepercayaan Diri Juventus
Liga Italia 2 November 2026, 19:50
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18



