Chant Anti-Muslim, Aib Sepak Bola Spanyol, dan Pembelaan Lamine Yamal
Richard Andreas | 2 April 2026 10:46
Bola.net - Pertandingan persahabatan antara Spanyol dan Mesir yang seharusnya menjadi momen perayaan justru berubah menjadi kontroversi besar. Laga yang berakhir imbang 0-0 di RCDE Stadium, Barcelona, tercoreng oleh chant anti-Muslim dari sebagian suporter di stadion.
Insiden itu terjadi dalam pertandingan terakhir tim nasional Spanyol di kandang sebelum Piala Dunia musim panas ini. Bukannya fokus pada performa tim yang digadang-gadang sebagai kandidat juara, perhatian justru tertuju pada suasana stadion yang penuh kontroversi.
Peristiwa tersebut memicu reaksi luas, termasuk dari bintang muda Spanyol, Lamine Yamal. Pemain Barcelona itu secara terbuka mengecam chant yang dianggapnya menghina agama dan tidak pantas terjadi di sepak bola.
Chant Anti-Muslim Menggema di Stadion

Kontroversi bermula pada menit ke-10 pertandingan ketika sebagian besar penonton di stadion menyanyikan chant bernada anti-Muslim. Mereka meneriakkan kalimat yang berarti “siapa yang tidak melompat adalah Muslim”.
Chant tersebut kembali terdengar sekitar 15 menit kemudian dengan partisipasi suporter yang cukup besar. Situasi ini membuat atmosfer pertandingan berubah menjadi tegang dan memunculkan kritik keras terhadap perilaku sebagian fans.
Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) sempat mengeluarkan peringatan melalui pengeras suara stadion saat jeda pertandingan. Pesan tersebut meminta penonton menghentikan nyanyian yang bersifat rasis, homofobik, atau xenofobik.
Namun, peringatan itu tidak sepenuhnya berhasil meredakan situasi. Chant serupa kembali terdengar pada babak kedua, meski kali ini sebagian besar penonton lainnya merespons dengan siulan sebagai tanda penolakan.
Lamine Yamal Mengecam Chant Rasis

Insiden tersebut terasa semakin sensitif karena salah satu pemain terbaik Spanyol di lapangan, Lamine Yamal, merupakan seorang Muslim. Pemain berusia 18 tahun itu berada di lapangan saat chant terdengar paling keras.
Menurut orang-orang dekatnya, Yamal merasa sedih dan terganggu dengan apa yang terjadi di stadion. Ia tidak berbicara kepada media setelah pertandingan, tetapi menyampaikan sikapnya melalui media sosial sehari kemudian.
“Saya seorang Muslim, syukurlah,” tulis Yamal dalam unggahannya di Instagram.
Ia menegaskan bahwa chant tersebut tetap merupakan bentuk penghinaan terhadap agama, meskipun mungkin ditujukan kepada tim lawan.
“Kemarin di stadion kami mendengar chant ‘siapa yang tidak melompat adalah Muslim’. Saya tahu itu ditujukan kepada tim lawan dan bukan kepada saya secara pribadi, tetapi sebagai seorang Muslim itu tetap tidak hormat dan sesuatu yang tidak bisa ditoleransi,” tulisnya.
Yamal juga menambahkan bahwa sepak bola seharusnya menjadi tempat untuk menikmati pertandingan dan memberi dukungan, bukan untuk menghina orang berdasarkan identitas atau keyakinan mereka.
Latar Belakang Yamal dan Identitasnya

Lamine Yamal selama ini dikenal terbuka mengenai pentingnya agama dalam hidupnya. Ia menjalani ibadah Ramadan selama dua musim terakhir sebagai pemain profesional.
Yamal lahir di Spanyol dari ayah asal Maroko dan ibu dari Guinea Khatulistiwa. Ia juga sering menyebut neneknya dari Maroko sebagai salah satu sosok yang paling menginspirasinya.
Bahkan ketika memperpanjang kontraknya dengan Barcelona tahun lalu, Yamal menunda teken kontrak karena ingin menunggu sang nenek kembali dari Maroko.
“Saya menunda penandatanganan kontrak baru dengan Barca demi nenek saya. Dia sedang berlibur di Maroko. Sekarang dia sudah kembali. Saya tidak bisa melakukan sesuatu yang begitu spesial tanpa dia di samping saya,” ujarnya saat itu.
Masalah Rasisme yang Terus Menghantui Sepak Bola Spanyol

Insiden di RCDE Stadium bukan pertama kalinya rasisme terjadi di stadion sepak bola Spanyol. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus serupa telah mencuat dan memicu perhatian global.
Yamal sendiri pernah menjadi korban ejekan rasis saat laga El Clasico di Santiago Bernabeu pada Oktober 2024. Pelaku yang masih di bawah umur kemudian diidentifikasi oleh otoritas Spanyol dan dijatuhi larangan menonton pertandingan sepak bola selama satu tahun serta hukuman kerja sosial selama 30 jam.
Kasus lain yang mendapat sorotan luas melibatkan penyerang Real Madrid, Vinicius Junior. Ia berulang kali menjadi sasaran ejekan rasis di berbagai stadion di Spanyol.
Bahkan pada musim ini, Vinicius juga dilaporkan menjadi korban dugaan pelecehan rasial dalam pertandingan Liga Champions melawan Benfica, yang kini tengah diselidiki oleh UEFA.
Kasus serupa juga pernah dialami penyerang Athletic Club, Inaki Williams, ketika bermain di stadion yang sama pada tahun 2020.
Bayang-Bayang bagi Tuan Rumah Piala Dunia 2030
Kontroversi ini menjadi semakin sensitif karena Spanyol akan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Portugal dan Maroko. Maroko sendiri merupakan negara dengan mayoritas penduduk Muslim.
Karena itu, banyak pihak menilai insiden tersebut berpotensi merusak citra sepak bola Spanyol di panggung internasional. Terlebih, stadion RCDE juga diperkirakan menjadi salah satu venue yang akan digunakan dalam turnamen tersebut.
Presiden RFEF Rafael Louzan menyebut chant tersebut sebagai insiden yang “terisolasi dan luar biasa”. Ia menegaskan bahwa federasi telah mengecam tindakan tersebut dan meminta suporter menghentikannya melalui layar stadion.
Meski begitu, berbagai media Spanyol menilai kejadian itu sebagai aib nasional. Surat kabar olahraga AS bahkan menyebutnya sebagai “aib dunia”.
Jangan sampai ketinggalan infonya
- Italia Absen 3 Kali Beruntun di Piala Dunia, Zola: Bongkar Fondasi Lama, Fokus pada Kualitas Pemain Muda
- Peluang Tipis Italia ke Piala Dunia 2026: Bergantung pada Nasib Iran di Tengah Konflik Global
- Kantor FIGC Dilempari Telur dan Dirusak Suporter, Didesak Evaluasi Usai Timnas Italia Gagal ke Piala Dunia 2026
- 5 Pelajaran dari Kegagalan Italia Lolos ke Piala Dunia 2026: Reformasi Harga Mati
- Viktor Gyokeres Gendong Swedia ke Piala Dunia 2026: Cetak Hattrick Lawan Ukraina dan Gol Penentu Versus Polandia
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Franco Baresi: Gattuso Bukan Penyebab Utama Kegagalan Italia
Piala Dunia 2 April 2026, 11:15
-
Viktor Gyokeres Tokcer: Swedia ke Piala Dunia, Arsenal Ikut Diuntungkan!
Liga Inggris 2 April 2026, 11:14
-
Chant Anti-Muslim, Aib Sepak Bola Spanyol, dan Pembelaan Lamine Yamal
Piala Dunia 2 April 2026, 10:46
LATEST UPDATE
-
Real Madrid Kian Dekat Gaet Ibrahima Konate dari Liverpool
Liga Spanyol 2 April 2026, 13:03
-
Agen Bongkar Ketertarikan Arsenal pada Bintang Leverkusen
Liga Inggris 2 April 2026, 12:53
-
Ini yang Dilakukan Fermin Lopez Saat Terima Gaji Pertama di Barcelona
Liga Spanyol 2 April 2026, 12:41
-
Di Mana Posisi Terbaik Cole Palmer, Benarkah Sayap Kanan?
Liga Inggris 2 April 2026, 12:21
LATEST EDITORIAL
-
3 Bintang Manchester United yang Absen di Piala Dunia 2026
Editorial 2 April 2026, 10:41
-
Starting XI Pemain Termahal yang Absen di Piala Dunia 2026
Editorial 2 April 2026, 10:13
-
Tanpa Italia hingga Nigeria, Ini Tim Besar yang Absen di Piala Dunia 2026
Editorial 1 April 2026, 08:21
-
3 Alternatif Murah Julian Alvarez untuk Barcelona di Bursa Transfer
Editorial 30 Maret 2026, 11:45







