Chant Anti-Muslim, Aib Sepak Bola Spanyol, dan Pembelaan Lamine Yamal

Richard Andreas | 2 April 2026 10:46
Chant Anti-Muslim, Aib Sepak Bola Spanyol, dan Pembelaan Lamine Yamal
Winger Timnas Spanyol, Lamine Yamal saat laga melawan Mesir di pertandingan uji coba, 1 April 2026. (c) AP Photo/Joan Monfort

Bola.net - Pertandingan persahabatan antara Spanyol dan Mesir yang seharusnya menjadi momen perayaan justru berubah menjadi kontroversi besar. Laga yang berakhir imbang 0-0 di RCDE Stadium, Barcelona, tercoreng oleh chant anti-Muslim dari sebagian suporter di stadion.

Insiden itu terjadi dalam pertandingan terakhir tim nasional Spanyol di kandang sebelum Piala Dunia musim panas ini. Bukannya fokus pada performa tim yang digadang-gadang sebagai kandidat juara, perhatian justru tertuju pada suasana stadion yang penuh kontroversi.

Advertisement

Peristiwa tersebut memicu reaksi luas, termasuk dari bintang muda Spanyol, Lamine Yamal. Pemain Barcelona itu secara terbuka mengecam chant yang dianggapnya menghina agama dan tidak pantas terjadi di sepak bola.

1 dari 5 halaman

Chant Anti-Muslim Menggema di Stadion

Chant Anti-Muslim Menggema di Stadion

Aksi gelandang Spanyol, Dani Olmo (tengah) saat melawan Timnas Mesir di laga uji coba, 1 April 2026 di Barcelona. (c) AP Photo/Joan Monfort

Kontroversi bermula pada menit ke-10 pertandingan ketika sebagian besar penonton di stadion menyanyikan chant bernada anti-Muslim. Mereka meneriakkan kalimat yang berarti “siapa yang tidak melompat adalah Muslim”.

Chant tersebut kembali terdengar sekitar 15 menit kemudian dengan partisipasi suporter yang cukup besar. Situasi ini membuat atmosfer pertandingan berubah menjadi tegang dan memunculkan kritik keras terhadap perilaku sebagian fans.

Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) sempat mengeluarkan peringatan melalui pengeras suara stadion saat jeda pertandingan. Pesan tersebut meminta penonton menghentikan nyanyian yang bersifat rasis, homofobik, atau xenofobik.

Namun, peringatan itu tidak sepenuhnya berhasil meredakan situasi. Chant serupa kembali terdengar pada babak kedua, meski kali ini sebagian besar penonton lainnya merespons dengan siulan sebagai tanda penolakan.

2 dari 5 halaman

Lamine Yamal Mengecam Chant Rasis

Lamine Yamal Mengecam Chant Rasis

Perebutan bola antara Rodri (kanan) dengan Omar Marmoush pada laga uji coba antara Spanyol vs Mesir, 1 April 2026 di Barcelona. (c) AP Photo/Joan Monfort

Insiden tersebut terasa semakin sensitif karena salah satu pemain terbaik Spanyol di lapangan, Lamine Yamal, merupakan seorang Muslim. Pemain berusia 18 tahun itu berada di lapangan saat chant terdengar paling keras.

Menurut orang-orang dekatnya, Yamal merasa sedih dan terganggu dengan apa yang terjadi di stadion. Ia tidak berbicara kepada media setelah pertandingan, tetapi menyampaikan sikapnya melalui media sosial sehari kemudian.

“Saya seorang Muslim, syukurlah,” tulis Yamal dalam unggahannya di Instagram.

Ia menegaskan bahwa chant tersebut tetap merupakan bentuk penghinaan terhadap agama, meskipun mungkin ditujukan kepada tim lawan.

“Kemarin di stadion kami mendengar chant ‘siapa yang tidak melompat adalah Muslim’. Saya tahu itu ditujukan kepada tim lawan dan bukan kepada saya secara pribadi, tetapi sebagai seorang Muslim itu tetap tidak hormat dan sesuatu yang tidak bisa ditoleransi,” tulisnya.

Yamal juga menambahkan bahwa sepak bola seharusnya menjadi tempat untuk menikmati pertandingan dan memberi dukungan, bukan untuk menghina orang berdasarkan identitas atau keyakinan mereka.

3 dari 5 halaman

Latar Belakang Yamal dan Identitasnya

Latar Belakang Yamal dan Identitasnya

Pemain Spanyol Lamine Yamal (kiri) berebut bola dengan pemain Mesir Hamdy Fathy pada laga persahabatan internasional antara Spanyol vs Mesir di Barcelona, 31 Maret 2026 (c) AP Photo/Joan Monfort

Lamine Yamal selama ini dikenal terbuka mengenai pentingnya agama dalam hidupnya. Ia menjalani ibadah Ramadan selama dua musim terakhir sebagai pemain profesional.

Yamal lahir di Spanyol dari ayah asal Maroko dan ibu dari Guinea Khatulistiwa. Ia juga sering menyebut neneknya dari Maroko sebagai salah satu sosok yang paling menginspirasinya.

Bahkan ketika memperpanjang kontraknya dengan Barcelona tahun lalu, Yamal menunda teken kontrak karena ingin menunggu sang nenek kembali dari Maroko.

“Saya menunda penandatanganan kontrak baru dengan Barca demi nenek saya. Dia sedang berlibur di Maroko. Sekarang dia sudah kembali. Saya tidak bisa melakukan sesuatu yang begitu spesial tanpa dia di samping saya,” ujarnya saat itu.

4 dari 5 halaman

Masalah Rasisme yang Terus Menghantui Sepak Bola Spanyol

Masalah Rasisme yang Terus Menghantui Sepak Bola Spanyol

Bek Spanyol, Dean Huijsen mencoba menghentikan pergerakan pemain Mesir, Zizo pada laga uji coba. (c) AP Photo/Joan Monfort

Insiden di RCDE Stadium bukan pertama kalinya rasisme terjadi di stadion sepak bola Spanyol. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus serupa telah mencuat dan memicu perhatian global.

Yamal sendiri pernah menjadi korban ejekan rasis saat laga El Clasico di Santiago Bernabeu pada Oktober 2024. Pelaku yang masih di bawah umur kemudian diidentifikasi oleh otoritas Spanyol dan dijatuhi larangan menonton pertandingan sepak bola selama satu tahun serta hukuman kerja sosial selama 30 jam.

Kasus lain yang mendapat sorotan luas melibatkan penyerang Real Madrid, Vinicius Junior. Ia berulang kali menjadi sasaran ejekan rasis di berbagai stadion di Spanyol.

Bahkan pada musim ini, Vinicius juga dilaporkan menjadi korban dugaan pelecehan rasial dalam pertandingan Liga Champions melawan Benfica, yang kini tengah diselidiki oleh UEFA.

Kasus serupa juga pernah dialami penyerang Athletic Club, Inaki Williams, ketika bermain di stadion yang sama pada tahun 2020.

5 dari 5 halaman

Bayang-Bayang bagi Tuan Rumah Piala Dunia 2030

Kontroversi ini menjadi semakin sensitif karena Spanyol akan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Portugal dan Maroko. Maroko sendiri merupakan negara dengan mayoritas penduduk Muslim.

Karena itu, banyak pihak menilai insiden tersebut berpotensi merusak citra sepak bola Spanyol di panggung internasional. Terlebih, stadion RCDE juga diperkirakan menjadi salah satu venue yang akan digunakan dalam turnamen tersebut.

Presiden RFEF Rafael Louzan menyebut chant tersebut sebagai insiden yang “terisolasi dan luar biasa”. Ia menegaskan bahwa federasi telah mengecam tindakan tersebut dan meminta suporter menghentikannya melalui layar stadion.

Meski begitu, berbagai media Spanyol menilai kejadian itu sebagai aib nasional. Surat kabar olahraga AS bahkan menyebutnya sebagai “aib dunia”.