Italia Masih Punya Penyakit Lama yang Belum Sembuh, Apa Itu?
Afdholud Dzikry | 31 Maret 2026 15:09
Bola.net - Timnas Italia kini tengah bersiap melakoni laga hidup mati di final play-off Piala Dunia melawan Bosnia-Herzegovina, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB. Pasukan Gennaro Gattuso membawa modal kemenangan 2-0 atas Irlandia Utara yang diraih di Bergamo pekan lalu.
Kemenangan lewat gol Sandro Tonali dan Moise Kean tersebut memang sangat krusial untuk mengangkat mentalitas tim. Namun, tiket menuju putaran final masih harus diperjuangkan di tengah atmosfer panas markas lawan.
Mantan pelatih AC Milan dan Juventus, Fabio Capello, memantau perkembangan Azzurri dengan seksama. Ia melihat ada campuran antara optimisme dan penyakit lama yang masih sering menghinggapi gaya permainan tim nasional.
Capello menyoroti bagaimana Italia sempat tampil buntu di babak pertama sebelum akhirnya bangkit setelah turun minum. Evaluasi ini dianggap sangat penting mengingat profil lawan yang akan mereka hadapi di laga final nanti jauh lebih berbahaya.
Babak Kedua Jadi Titik Balik Permainan Italia

Italia tidak tampil meyakinkan di 45 menit pertama saat menghadapi Irlandia Utara. Permainan berjalan lambat dan sulit menembus pertahanan lawan.
Situasinya berubah setelah turun minum. Intensitas meningkat, peluang mulai tercipta, dan dua gol akhirnya datang di babak kedua.
"Kami melewati rintangan itu dengan babak pertama yang agak ragu, lalu menemukan kembali permainan di babak kedua. Itu sangat penting secara psikologis," ujar Fabio Capello kepada Gazzetta.
"Itu membantu pemain memahami nilai sebenarnya dari tim ini, dan saya yakin Gattuso akan terus menggarap hal itu jelang laga melawan Bosnia."
Respons setelah jeda jadi sinyal positif. Tim tidak runtuh, justru mampu bangkit.
Masalah Lama Masih Terlihat Jelas

Di balik kemenangan itu, Capello melihat pola yang tidak asing. Beberapa kelemahan lama masih muncul dalam permainan Italia.
Aliran bola terlalu sering ke samping. Tempo juga lambat, dengan minimnya permainan vertikal yang benar-benar mengancam.
"Dari sisi negatif, saya melihat masalah yang biasa muncul di sepak bola Italia. Operan ke samping, lambat, kurang vertikal, dan minim kepribadian saat menguasai bola," jelas Capello.
"Namun dari sisi positif, reaksi tim sangat penting, dan saya juga menyukai masuknya Pio Esposito yang memberi keseimbangan," terangnya.
Evaluasi itu menunjukkan pekerjaan belum selesai. Italia menang, tapi belum sepenuhnya meyakinkan.
Peran Pio Esposito dan Komposisi Lini Depan

Masuknya Francesco Pio Esposito memberi dimensi berbeda. Ia dianggap mampu menambah keseimbangan dalam skema serangan.
Capello melihat ada perbedaan karakter dibanding dua penyerang lain. Matteo Retegui dan Moise Kean dinilai memiliki profil yang cukup mirip.
"Semua opsi di lini depan bagus, tapi Retegui dan Kean agak terlalu mirip," kata Capello.
"Pio punya kekuatan, kemampuan duel udara, dan visi yang bisa sangat penting di momen krusial," imbuh mantan pelatih Juventus tersebut.
Variasi ini bisa jadi kunci. Terutama saat menghadapi tim dengan organisasi permainan yang solid.
Ancaman Bola Mati dan Tekanan di Zenica

Italia diperkirakan akan menghadapi atmosfer yang tidak mudah di Bosnia. Namun Capello justru lebih fokus pada aspek teknis di lapangan.
Kekhawatiran utamanya adalah situasi bola mati. Corner dan free kick dinilai bisa menjadi titik lemah.
"Saya khawatir dengan tendangan sudut dan bola mati, terutama bagaimana kami bertahan di kotak penalti," ujarnya.
"Kami punya bek yang bagus saat menguasai bola, tapi tidak terlalu kuat dalam penjagaan. Bosnia sangat mengandalkan itu," lanjutnya.
Ia juga menyoroti kualitas individu lawan. Termasuk Edin Dzeko yang disebut mampu mengungguli bek-bek kuat dalam duel udara.
"Kami akan menghadapi tim yang punya kualitas dan karakter, termasuk pemain muda seperti Alajbegovic," tambahnya.
Laga ini akan menguji detail kecil. Kesalahan sedikit saja bisa berakibat besar. Italia sudah berada di posisi krusial. Segalanya kini ditentukan di satu pertandingan.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Harry Kane Raih Gerd Muller Trophy 2026 dengan 73 Gol
Piala Dunia 27 Oktober 2026, 06:21
-
Spanyol Sapu Bersih Yashin Trophy 2026 Putra dan Putri
Piala Dunia 27 Oktober 2026, 05:55
-
Luis de la Fuente Raih Men's Coach of the Year 2026, Cetak Sejarah
Piala Dunia 27 Oktober 2026, 05:45
-
Hasil Arsenal vs Everton: 2 Bek Tengah Cetak Gol, The Gunners Kunci Kemenangan
Liga Inggris 24 Oktober 2026, 22:55
LATEST UPDATE
-
Pemain Juventus Muak, Luciano Spalletti Dianggap Terlalu Banyak Bicara!
Liga Italia 30 Oktober 2026, 22:58
-
Dominic Calvert-Lewin Diincar MU, Leeds: Maaf, Gak Dulu!
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 22:57
-
Hitung Mundur Menuju 1000 Gol Cristiano Ronaldo, Kurang Berapa?
Piala Dunia 30 Oktober 2026, 22:20
-
Youri Tielemans Lega Michael Carrick Selamat dari Pemecatan di MU
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 22:07
-
Tidak Takut, Michael Carrick Justru Tidak Sabar MU Hadapi Chelsea
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 21:46
-
Prediksi BRI Super League: PSM vs Madura United 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:10
-
Prediksi BRI Super League: Persik vs Persita 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:05
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18




