Kolom Euro 2020: Mengapa Kroasia Hebat di Sepak Bola
Gia Yuda Pradana | 13 Juni 2021 10:26
Bola.net - Suka nonton siaran bola di televisi Indonesia? Barangkali sering mendengar kalimat komentator seperti ini, "Pemain itu terlalu terburu-buru sehingga tendangannya meleset."
Lain waktu ada yang berkata seperti ini. "Tampaknya si pemain kurang percaya diri sehingga tendangannya mudah diantisipasi kiper."
Kalimat-kalimat seperti itu sulit diukur. Penonton tidak pernah tahu apa betul si pemain sedang kemrungsung sehingga bola meleset. Juga apa benar si pemain kurang percaya diri atau jangan-jangan malah overkonfiden sehingga tendangannya gagal berbuah gol.
Bicara di hadapan banyak orang memang susah. Kalau dalam menulis diajari untuk show don't tell, komentator bola di televisi juga punya aturan khusus termasuk biarkan aksi di lapangan bicara sendiri. Tetapi tak selamanya golden rules itu mudah diterapkan.
Ada satu lagi jenis komentar sangat sering diucapkan, tampak keren tetapi juga kelihatan absurd. Yaitu: "Tim itu kalah secara mental" atau "mental tim itu buruk sehingga kalah."
Absurd karena penonton tidak pernah dijelaskan mental jenis apa yang bikin seorang pemain atau sebuah tim terpuruk. Mental menjadi sesuatu tidak kelihatan tetapi seakan-akan bisa dilihat.
Psikolog yang bersentuhan dengan olahraga sudah sejak lama meneliti arti mental tangguh di lapangan pertandingan. Mereka sadar, selain fisik, teknik, dan taktik, ketangguhan mental punya peran besar dalam kesuksesan olahraga.
Misalnya Thelwell, Weston dan Greenless (2005) mengidentifikasi 10 faktor kunci ketangguhan mental dalam sepak bola. Antara lain memiliki keyakinan sepanjang waktu bakal sukses, memburu bola terus menerus, bereaksi secara positif terhadap berbagai situasi, mampu bertahan dari segala macam tekanan, bisa keluar dari segala kesulitan. Selanjutnya mampu menghindari pengalihan perhatian dan terus fokus, mengontrol emosi selama permainan, punya penampilan yang mempengaruhi lawan, bisa mengendalikan segala sesuatu di luar permainan, dan terakhir bisa menikmati tekanan.
Dalam perkembangan sains olahraga, frase-frase tadi diterjemahkan ke berbagai aksi konkrit di lapangan agar bisa diukur. Misalnya: kemampuan mengejar setiap bola, pengambilan keputusan efektif, bersaing dalam setiap duel, memblokir operan dan tembakan lawan, berlari ke ruang terbuka untuk membuka pertahanan lawan, dan melipatgandakan etos kerja dalam menutupi ruang kosong.
Pada poin ini akan diketahui seberapa kadar seorang pemain atau sebuah tim punya mental tangguh atau sebaliknya lemah secara mental.
Bicara soal mental tangguh orang tidak akan bisa meminggirkan Kroasia sebagai contoh. Tidak cuma di sepak bola, tetapi dalam olahraga secara keseluruhan.
Pada 2018, media Jerman Bild menyebut Kroasia sebagai the best sporting nation in the world.
Sepanjang sejarahnya, negara dengan populasi 4,1 juta jiwa itu mampu menghasilkan atlet-atlet kelas dunia. Sebut saja Zvonimir Boban, Robert Prosinecki, Davor Suker, Luka Modric di sepak bola. Di cabang tenis, mereka melahirkan Goran Ivanisevic, Marin Cilic atau Iva Majoli. Di dunia basket mereka punya Toni Kukoc, Drazen Petrovic, Dino Radja, atau Peja Stojakovic. Di cabang pingpong mereka pernah punya Zoran Primorac. Dan masih berderet lagi atlet kelas dunia dari pecahan Yugoslavia itu.
Di sepak bola, satu fakta menarik misalnya, selalu ada pemain Kroasia yang memenangkan Liga Champions sembilan tahun berturut-turut. Terakhir Mateo Kovacic bersama Chelsea. Prestasi paling monumental tentu menjadi finalis Piala Dunia 2018.
Berbagai penelitian coba mengungkap mengapa Kroasia bisa begitu hebat di dunia olahraga. Sebab, statistik penunjang justru bertolak belakang. Misalnya, jumlah anggaran Kroasia untuk olahraga ada di posisi paling buncit dari 28 negara Uni Eropa. Hanya 0,2 persen APBN dialokasikan untuk olahraga.
Jika jumlah anggaran dibagi populasi, ketemu alokasi per habitat, posisinya juga tetap di dasar peringkat.
Lalu apa yang bikin Kroasia hebat? Banyak faktor. Bisa genetik, kualitas kepelatihan, passion, budaya, patriotisme, dan struktur pembibitan yang tertata. Tapi satu hal tidak bisa dilupakan jelas kekuatan mental.
Konflik berdarah imbas runtuhnya Yugoslavia pada 1990-an membentuk karakter tangguh orang Kroasia. Beberapa pemain bangkit dari trauma mendalam. Luka Modric dulunya penggembala kambing yang mengungsi gara-gara perang. Dejan Lovren, harus mengungsi pada usia tiga tahun karena perang dan masih banyak kisah-kisah heroik lainnya.
Nah, ketangguhan mental pemain-pemain Kroasia akan kembali diuji lawan Inggris pada Euro 2020 malam nanti. Banyak media Inggris menyebut Kroasia ancaman terbesar bagi pasukan Gareth Southgate di Grup D. Pada 2018 lalu, Kroasia menyisihkan Inggris di semifinal Piala Dunia.
Namun demikian, performa terkini Inggris di berbagai laga membuat pelatih Gareth Southgate tidak layak khawatir. Apalagi Si Tiga Singa punya rekor tanpa pernah kalah sepanjang turnamen besar di Wembley.
Gareth Southgate tentu tetap bisa fokus. Terhadap segala kekhawatiran pendukungnya, dia mungkin hanya perlu menjawab santai: Don't mother think, i'am not father--Aja (terlalu) mbok pikir, aku ra papa--.
Penulis: Titis Widyatmoko, penikmat sepak bola
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Prediksi Kroasia vs Spanyol 7 Oktober 2026
Piala Eropa 6 Oktober 2026, 09:28
-
Indonesia vs Thailand, Ketika Kejutan Musiman Bertemu Struktur
Tim Nasional 5 Oktober 2026, 13:55
-
Jude Bellingham Ukir Rekor 33 Tahun Saat Inggris Libas Kroasia 7-0
Piala Eropa 4 Oktober 2026, 07:42
-
Luka Modric Malu Kroasia Dihancurkan Inggris 0-7
Piala Eropa 4 Oktober 2026, 06:32
LATEST UPDATE
-
Pemain Juventus Muak, Luciano Spalletti Dianggap Terlalu Banyak Bicara!
Liga Italia 30 Oktober 2026, 22:58
-
Dominic Calvert-Lewin Diincar MU, Leeds: Maaf, Gak Dulu!
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 22:57
-
Hitung Mundur Menuju 1000 Gol Cristiano Ronaldo, Kurang Berapa?
Piala Dunia 30 Oktober 2026, 22:20
-
Youri Tielemans Lega Michael Carrick Selamat dari Pemecatan di MU
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 22:07
-
Tidak Takut, Michael Carrick Justru Tidak Sabar MU Hadapi Chelsea
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 21:46
-
Prediksi BRI Super League: PSM vs Madura United 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:10
-
Prediksi BRI Super League: Persik vs Persita 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:05
-
Prediksi BRI Super League: Arema FC vs Bali United 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:00
-
Prediksi BRI Super League: Dewa United vs Persija 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 19:55
-
Tempat Menonton Persebaya vs Persijap di BRI Super League, 30 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 18:05
-
Nova Arianto Semringah Lihat Amar Brkic Bersinar di Borneo FC
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 18:00
-
Link Streaming Persebaya vs Persijap, 30 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 17:59
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18




