
Bola.net - Impian Arsenal untuk mengangkat trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub kembali harus tertunda. The Gunners menelan pil pahit setelah kalah dari Paris Saint-Germain dalam drama adu penalti pada partai final yang berlangsung sengit di Budapest, Hungaria.
Laga yang mempertemukan dua tim terbaik Eropa musim ini berlangsung ketat selama 120 menit. Arsenal sempat berada di ambang kejayaan setelah unggul lebih dulu, namun PSG berhasil bangkit dan akhirnya memastikan gelar juara lewat adu penalti.
Kegagalan eksekusi dari Eberechi Eze dan Gabriel menjadi penentu kemenangan wakil Prancis tersebut, yang sukses mempertahankan gelar Liga Champions mereka untuk musim kedua secara beruntun.
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru seputar Liga Champions, kamu bisa join di Channel WA Bola.net dengan KLIK DI SINI.
Arsenal Sempat Bermimpi

Arsenal mengawali pertandingan dengan sempurna. Baru enam menit laga berjalan, Kai Havertz berhasil membawa tim asuhan Mikel Arteta unggul lebih dulu.
Berawal dari sapuan bola yang tidak sempurna dari lini belakang PSG, bola jatuh di kaki penyerang asal Jerman tersebut. Havertz kemudian melakukan penetrasi sebelum melepaskan tembakan keras dari sudut sempit yang gagal diantisipasi kiper Matvey Safonov.
Gol cepat itu membuat Arsenal bermain lebih percaya diri. Meski PSG mendominasi penguasaan bola, pertahanan The Gunners tampil disiplin dan sulit ditembus. Gabriel menjadi sosok sentral di lini belakang dengan sejumlah intersep dan sapuan penting yang menjaga keunggulan timnya hingga turun minum.
Penalti Dembele Mengubah Jalannya Laga

Momentum pertandingan berubah memasuki satu jam permainan. Bek Arsenal, Cristhian Mosquera, dinilai melakukan pelanggaran terhadap Khvicha Kvaratskhelia di dalam kotak penalti.
Wasit tanpa ragu menunjuk titik putih dan Ousmane Dembele menjalankan tugasnya dengan sempurna. Eksekusi tenang sang penyerang mengubah skor menjadi 1-1 dan menghidupkan kembali harapan PSG.
Setelah gol tersebut, kedua tim saling menekan demi mencari gol kemenangan. Arsenal nyaris kebobolan di penghujung waktu normal, tetapi David Raya melakukan penyelamatan luar biasa saat menghadapi peluang emas Bradley Barcola.
Skor imbang bertahan hingga perpanjangan waktu. Arsenal sempat melancarkan protes keras setelah permintaan penalti atas pelanggaran terhadap Noni Madueke tidak diindahkan wasit. Namun keputusan tersebut tetap tidak berubah.
Pemenang akhirnya harus ditentukan melalui adu penalti, dan PSG kembali menunjukkan mental juara mereka.
Arsenal Kembali Patah Hati di Final

Kekalahan ini menjadi luka mendalam bagi Arsenal. Untuk kedua kalinya dalam sejarah, mereka mencapai final Liga Champions dan kembali gagal mengangkat trofi.
Lebih menyakitkan lagi, Arsenal sempat unggul dalam pertandingan sebelum akhirnya kehilangan kesempatan emas tersebut. Situasi ini mengingatkan banyak pihak pada kegagalan mereka di final Eropa dua dekade lalu.
Bagi para pemain dan pendukung The Gunners, kekalahan lewat adu penalti menjadi salah satu cara paling menyakitkan untuk mengakhiri perjalanan yang sebenarnya sangat menjanjikan.
Keputusan Arteta Hampir Berbuah Sempurna

Meski gagal membawa timnya juara, Mikel Arteta layak mendapatkan apresiasi atas keputusan taktis yang diambilnya.
Salah satu keputusan terbesar adalah memainkan Kai Havertz sebagai starter dan mengesampingkan Viktor Gyokeres. Pilihan tersebut terbukti tepat setelah Havertz mencetak gol pembuka.
Selain itu, Arteta juga berani memberikan kepercayaan kepada Myles Lewis-Skelly di lini tengah. Gelandang muda jebolan akademi Arsenal tersebut tampil impresif sepanjang pertandingan.
Mosquera, yang dipercaya menggantikan Jurrien Timber, juga tampil solid selama sebagian besar laga sebelum akhirnya melakukan pelanggaran yang berujung penalti untuk PSG.
Secara keseluruhan, hampir semua keputusan besar Arteta berjalan sesuai rencana. Sayangnya, hasil akhir tidak berpihak kepada Arsenal.
Strategi Bertahan Arsenal Hampir Sukses

Arsenal datang ke final dengan pendekatan yang sangat terorganisir. Setelah unggul cepat, mereka fokus meredam agresivitas PSG yang dikenal memiliki lini serang mematikan.
Taktik tersebut nyaris membuahkan hasil. PSG memang menguasai bola lebih banyak, tetapi kesulitan menciptakan peluang berbahaya selama sebagian besar pertandingan.
Gabriel dan rekan-rekannya mampu mematahkan berbagai upaya serangan lawan. Hingga penalti Dembele tercipta, Arsenal terlihat berada di jalur yang tepat menuju gelar juara Eropa pertama mereka.
Namun satu momen krusial cukup untuk mengubah arah pertandingan dan memupus mimpi mereka.
PSG Tak Dominan, tetapi Tetap Juara

Sebagai juara bertahan, PSG datang ke Budapest dengan status favorit. Namun performa mereka kali ini tidak seimpresif saat menjuarai kompetisi musim sebelumnya.
Tim asuhan Luis Enrique terlihat kesulitan menembus pertahanan Arsenal. Bahkan David Raya nyaris tidak mendapatkan ancaman serius hingga babak kedua.
Meski demikian, PSG menunjukkan kualitas yang membedakan tim besar dengan tim lainnya. Ketika kesempatan datang melalui penalti, mereka mampu memanfaatkannya. Saat laga berlanjut ke adu penalti, mental juara kembali menjadi pembeda.
Keberhasilan mempertahankan gelar membuat PSG mencatatkan prestasi istimewa. Mereka menjadi salah satu tim langka yang mampu menjuarai Liga Champions secara beruntun pada era modern kompetisi tersebut.
Gabriel Jadi Simbol Kesedihan Arsenal

Di tengah kekecewaan Arsenal, Gabriel menjadi salah satu pemain yang paling layak mendapatkan pujian.
Bek asal Brasil itu tampil luar biasa sepanjang pertandingan. Ia berkali-kali menggagalkan peluang PSG dan menjadi pemimpin di lini belakang The Gunners.
Ketika pertandingan berlanjut hingga adu penalti, Gabriel menunjukkan keberanian dengan mengambil tanggung jawab sebagai eksekutor penalti penentu. Namun nasib berkata lain.
Penalti yang gagal berujung pada kemenangan PSG dan membuat malam yang sebelumnya dipenuhi harapan berubah menjadi mimpi buruk bagi Arsenal.
Bagi Gabriel dan Arsenal, final di Budapest akan dikenang sebagai malam ketika mereka begitu dekat dengan sejarah, tetapi akhirnya harus menyaksikan trofi Liga Champions jatuh ke tangan lawan.
Sumber: Mirror
Jangan Lewatkan!
- 3 Duel Kunci yang Menentukan Final Liga Champions: Rice vs Vitinha hingga Malam Kelam Mosquera
- Momen Canggung Saat PSG Angkat Trofi Liga Champions, Presiden UEFA Nyaris Salah Serahkan Piala ke Dembele
- Khvicha Kvaratskhelia Dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Liga Champions 2025/2026
- Setengah Juta Fans Tumpah Ruah di London, Arsenal Rayakan Gelar Premier League Meski Gagal Juara Eropa
Advertisement
Berita Terkait
LATEST UPDATE
BERITA LAINNYA
-
champions 31 Mei 2026 19:00Analisis Taktik: Kendali Permainan PSG, Pertahanan Sayap Arsenal
SOROT
-
Liputan6 1 Juni 2026 05:35Ryamizard Ryacudu Meninggal, Prabowo Sampaikan Duka Cita
-
Liputan6 1 Juni 2026 01:25Khvicha Kvaratskhelia Jadi Pemain Terbaik Liga Champions 2025/2026
-
Liputan6 31 Mei 2026 22:37PSG Memang Pantas Jadi Kampiun Liga Champions Dua Kali Beruntun
-
Liputan6 31 Mei 2026 22:35PSG Sejajar dengan Barcelona Soal Rekor Gol di Liga Champions
HIGHLIGHT
5 Pemain yang Pernah Berseragam PSG dan Arsenal, A...
3 Alasan Chelsea Sebaiknya Jual Enzo Fernandez Mus...
5 Pemain Top yang Tak Masuk Timnas Belanda untuk P...
7 Kandidat Pengganti Casemiro di Manchester United...
Darurat Lini Depan Liverpool: 4 Opsi Pengganti Hug...
9 Kandidat Pengganti Alvaro Arbeloa di Real Madrid...
Jika Barcelona Mundur: 6 Destinasi Potensial Marcu...










:strip_icc()/kly-media-production/medias/7494149/original/018397000_1780266740-Unggahann_Prabowo.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5568950/original/053357800_1777407647-khvicha-kvaratskhelia-psg-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7414691/original/084122600_1780192908-Arsenal_Gabriel_PSG-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7391798/original/039332700_1780171511-000_B4HP2EN__1_.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7418501/original/032596300_1780196121-PSG.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5413857/original/015758700_1763204123-000_83XE8EZ.jpg)

