Duel-duel Final Paling Dramatis di Liga Champions

Duel-duel Final Paling Dramatis di Liga Champions
Liga Champions (c) ist

Bola.net - Bola.net - Kompetisi paling elit di Eropa, Liga Champions, tak hanya menyuguhkan duel-duel final yang apik, namun juga sangat dramatis.

Liga Champions adalah panggung pertunjukan tim-tim terbaik dari segala penjuru Eropa. Maka wajar saja apabila hampir semua pertandingan di kompetisi tersebut berlangsung menarik dan banyak dinanti-nantikan oleh semua pecinta bola di dunia. Banyak pula pertandingan yang berlangsung dramatis dan hasilnya di luar dugaan.

Saat ini, kompetisi Liga Champions sudah memasuki tahap akhir, yakni babak final. Real Madrid dan Atletico Madrid akan saling bertarung di partai puncak yang akan dilangsungkan di San Siro, Milan, 29 Mei mendatang itu.

Sebelum dilangsungkannya partai tersebut, mari kita simak dahulu sejumlah pertandingan-pertandingan final Liga Champions yang berlangsung dengan dramatis.

Final 2001

Final 2001

Bayern Munchen vs Valencia

Setelah dikalahkan oleh Real Madrid di tahun 2000, Valencia berhasil kembali menembus final UCL. Namun kali ini mereka berhadapan dengan raksasa Bundesliga, Bayern Munchen.

Awalnya Valencia unggul lebih dulu di menit ke-3 berkat eksekusi penalti Gaizka Mendieta. Namun beberapa menit kemudian giliran Bayern yang mendapat penalti. Namun Mehmet Scholl gagal mengeksekusi penalti itu dengan sempurna. Untungnya di babak kedua Bayern kembali mendapat penalti setelah Amadeo Carboni melakukan handball di dalam kotak terlarang. Kali ini eksekusi berhasil dituntaskan dengan sempurna oleh Stefan Effenberg.

Pertandingan itu terus berlangsung dengan alot hingga babak extra time dan akhirnya terpaksa harus diakhiri dengan adu penalti. Di babak ini, Bayern keluar sebagai pemenang dengan skor 5-4 setelah Oliver Kahn sukses mementahkan penalti Mauricio Pellegrino.

Final 1996

Final 1996

Juventus vs Ajax Amsterdam

Setahun sebelumnya, Ajax berhasil jadi juara di final UCL setelah mengalahkan AC Milan. Jadi kali ini tim yang kala itu dipimpin oleh Louis Van Gaal merasa pede akan bisa mengatasi perlawanan Juventus.

Namun Juve mampu memberikan perlawanan alot. Mereka bahkan unggul lebih dulu pada menit ke-12 berkat aksi Fabrizio Ravanelli. Namun jelang turun minum Jari Litmanen bisa menyamakan kedudukan.

Laga babak kedua lantas berlangsung dengan menarik namun tak ada gol yang tercipta. Pertandingan akhirnya dilangsungkan sampai adu penalti. Di sini ada dua pemain Ajax yang gagal melakukan tugasnya: Edgar Davids dan Sonny Silooy. Juve pun menang dengan skor 4-2 dan sukses meraih trofi Liga Champions untuk kedua kalinya.

Final 2008

Final 2008

Manchester United vs Chelsea

Ini merupakan masa-masa di mana tim penghuni big four di Premier League merajai pentas Premier League dan untuk pertama kalinya dua tim asal Inggris bertemu di partai final.

Dua gol langsung tercipta di babak pertama. Cristiano Ronaldo mampu membuat MU unggul namun jelang turun minum Frank Lampard bisa menyamakan kedudukan jadi 1-1.

Duel ini berlangsung dengan cukup ketat dan ada sejumlah peluang yang tercipta. Namun pada akhirnya tak ada satu pun gol yang terjadi dan pertandingan terpaksa dilangsungkan hingga adu penalti.

Fase ini juga berlangsung sangat menegangkan setelah Ronaldo yang jadi penendang ketiga MU gagal mencetak gol. Namun setelah itu John Terry yang jadi eksekutor kelima juga gagal karena sebelum menendang ia sempat terpeleset. The Blues akhirnya kalah setelah Anelka juga mengikuti langkah Terry.

Final 2006

Final 2006

Barcelona vs Arsenal

The Gunners tampil perkasa pada musim ini. Dan pasukan Arsene Wenger itu pun terbukti sanggup menyulitkan Barcelona yang saat
itu diperkuat trio Ronaldinho, Samuel Eto'o dan Ludovic Giuly.

Arsenal mampu unggul lebih dulu berkat gol bek tangguh mereka, Sol Campbell, di menit ke-37. Harapan The Gunners untuk menang kian memuncak setelah Barca tetap tak bisa menyamakan kedudukan hingga menit ke-75. Namun sayangnya keadaan berubah pada menit ke-76 setelah Henrik Larsson memberikan assist yang berbuah gol yang dicetak Eto'o.

Empat menit berselang, legenda asal Swedia itu kembali beraksi dan kali ini ia juga berperan memberikan assist pada gol yang dicetak oleh Juliano Belletti. Barcelona pun akhirnya menang dengan skor 2-1.

Final 2012

Final 2012

Chelsea vs Bayern Munchen

Duel ini berlangsung dengan ketat dari menit pertama. Kedua tim ini akhirnya sama-sama kesulitan mencetak gol. Barulah pada menit ke-83 ada gol yang tercipta. Thomas Muller sukses membobol gawang The Blues.

Munchen gembira karena mereka merasa bisa menang lantaran waktu yang tersisa cukup sedikit. Namun lima menit kemudian Chelsea justru bisa membalas melalui sundulan Didier Drogba.

Pertandingan ini tak menghasilkan gol lagi meski wasit memberikan babak tambahan. Pemenang laga tersebut terpaksa harus ditentukan lewat adu penalti. Di sini, Bayern kembali seakan mendapat keberuntungan saat Mata gagal menyarangkan gol pada kesempatan pertama. Namun Bayern terpaksa gigit jari karena penendang keempat dan kelima mereka yaitu Ivica Olic dan Bastian Schweinsteiger gagal mencetak gol. Drobga sendiri kembali jadi penentu setelah eksekusinya tak bisa ditahan Neuer. The Blues menang dengan skor 3-4.

Final 1999

Final 1999

Manchester United vs Bayern Munchen

Pertandingan ini seakan ditakdirkan untuk jadi milik Bayern di awal-awal laga. Sebab mereka bisa langsung mencetak gol di menit ke-6 melalui Mario Basler.

Di sepanjang pertandingan, pasukan Sir Alex Ferguson terus mencoba membongkar pertahanan Bayern. Namun semua usaha mereka selalu gagal. Ottmar Hitzfeld pun mulai yakin bahwa timnya akan bisa juara lantaran hingga menit ke-90 mereka masih unggul 1-0. Bahkan saat itu  sudah banyak pula fans MU yang pasrah mereka akan kalah.

Namun berkat pergantian yang jitu oleh Ferguson plus dengan semangat pantang menyerah, MU bisa membalikkan keadaan hanya dalam dua menit. Di menit ke-91 mereka bisa membalas melalui Teddy Sheringham dan di menit ke-93 Setan Merah akhirnya unggul 2-1 berkat gol Ole Gunnar Solksjaer. Bayern pun seakan tak percaya dengan kekalahan yang mereka alami saat itu.

Final 2005

Final 2005

Liverpool vs AC Milan

Liverpool tak terlalu diunggulkan saat itu. Sebab mereka kalah segalanya dari AC Milan: komposisi pemain, pengalaman maupun permainan. Dan hal itu terbukti di babak pertama. Rossoneri bisa unggul cepat di menit ke-1 melalui Paolo Maldini.

Liverpool kian terpuruk setelah di menit ke-39 dan 44 Hernan Crespo mampu membuat Milan unggul telak 3-0 sebelum turun minum. Di titik ini, semua fans sudah mengira bahwa Rossoneri yang akan jadi juaranya.

Namun Liverpool mampu bangkit dengan luar biasa di babak kedua. Mereka terus menyerang pertahanan Milan dan akhirnya bisa mereduksi ketertinggalan mereka berkat gol Steven Gerrard di menit ke-54. Dari sini, semangat juang The Reds meningkat. Dua menit kemudian giliran Vladimir Smicer yang mencetak gol dan disusul gol Xabi Alonso di menit ke-60.

Skor menjadi 3-3 dan pertandingan jadi kian menegangkan. Milan sendiri sempat mendapat cukup banyak peluang khususnya di babak extra time. Ada dua peluang emas beruntun dari Andriy Shevchenko yang semuanya bisa digagalkan oleh Jerzy Dudek.

Pada akhirnya pemenang laga ini ditentukan melalui babak adu penalti. Dua penendang awal Milan yakni Serginho dan Pirlo gagal. Di sisi Liverpool, penendang ketiga mereka yakni Riise juga gagal menyarangkan penalti. The Reds akhirnya jadi pemenang setelah Shevchenko gagal melakukan tugasnya sebagai eksekutor kelima. Rossoneri kalah dengan skor 2-3.