5 Pelatih Level Dunia yang Berkarier di Indonesia, Siapa yang Sukses?

Aga Deta | 15 Desember 2020 12:00
Luis Milla (c) Inasgoc/Antara

Bola.net - Sepak bola Indonesia punya pesona di mata dunia. Buktinya, tidak sedikit bintang lapangan hijau, mulai dari pemain hingga pelatih dari negara luar yang pernah mengadu nasib di sini.

Sepak bola Indonesia memiliki daya tarik bagi bintang dunia di pengujung kariernya. Selain mendapatkan uang, mereka bisa merasakan bermain dengan atmosfer suporter yang bombastis.

Di level pemain, mulai dari Mario Kempes, Roger Milla hingga Michael Essien pernah berkarier di Indonesia. Bisa ditebak, kiprah mereka tidak berumur panjang.

Di strata pelatih, sejumlah juru taktik dengan atribut kelas internasional pun pernah melatih di Indonesia. Umumnya, mereka mau melatih di sini karena tidak terpakai lagi di level atas.

Berikut lima pelatih level dunia yang pernah berkarier di Indonesia, baik di Liga Indonesia maupun Timnas Indonesia. Berikut lima di antaranya:

1 dari 5 halaman

Wiel Coerver

Wiel Coerver merupakan pelatih klub top Belanda, Feyenoord. Dia nyaris membawa Timnas Indonesia lolos ke Olimpiade 1976 di Montreal, Kanada.

Skuad Merah putih kala itu berhasil melaju ke final kualifikasi. Sayangnya, pasukan Garuda harus tersingkir setelah ditundukkan Korea Utara melalui drama adu penalti 4-5.

Coerver yang lahir pada 3 Desember 1924 memenangi Kejuaraan Belanda 1956 ketika memperkuat Rapid JC yang sekarang bernama sekarang Roda JC. Pada periode 1975 sampai 1976, Coerver menukangi skuad Merah Putih.

Dia didatangkan khusus untuk membantu Timnas Indonesia lolos kualifikasi Olimpiade 1976. Kala itu, timnas baru kembali ke pentas internasional setelah dijatuhi sanksi larangan tampil selama 16 tahun akibat memboikot pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 1958 melawan Israel.

Walau berada di Indonesia dalam waktu yang singkat, nama Coerver melegenda. Dia dinilai sukses membangun pondasi gaya bermain sepak bola Indonesia.

Di pentas internasional, prestasi Coerver amat mentereng. Dia mengantar Feyenoord mengalahkan Tottenham Hotspur untuk memenangi Piala UEFA 1974.

Gerrad Meijer yang bertugas sebagai fisioterapis di Feyenoord selama 50 tahun, mengatakan Coerver merupakan sosok dengan semangat yang tinggi. Ketika baru tiba di Feyenoord, dasar-dasar sepak bola menjadi materi utama Coerver. Teknik yang diajarkan Coerver membuat para pemain benar-benar berkembang.

Selain Timnas Indonesia dan Feyenoord, Coerver juga pernah melatih Sparta Rotterdam, Roda JC Kerkrade, dan Go Ahead Eagles. Namun, bukan kiprahnya sebagai pelatih yang membuat Coerver terkenal di persepakbolaan internasional.

Dia terkenal dengan metode kepelatihannya yang disebut Coerver Method. Metode ini dinilai sebagai sistem kepelatihan paling sukses di era sepak bola modern. Metode ini menggabungkan kemampuan pesepak bola menggiring bola, mengoper, kecepatan, pergerakan satu-lawan-satu, dan penyelesaian.

2 dari 5 halaman

Luis Milla

Mantan pelatih Timnas Indonesia, Luis Milla, usai bertemu dengan PSSI di New World Manila Bay Hotel, Jumat malam (29/11). Pelatih asal Spanyol itu memberikan presentasi tentang rencananya untuk Timnas

Indonesia bak rumah kedua bagi Luis Milla. Setelah diberhentikan dari posisi pelatih Timnas Indonesia usai Asian Games 2018, pelatih asal Spanyol itu masih bersedia untuk diminta kembali

Masih ingat saat PSSI mempertimbangkan Milla, selain Shin Tae-yong, sebagai pengganti Simon McMenemy sebagai pelatih Timnas Indonesia pada November 2019? Fakta itu menjadi bukti sahih kecintaan pria berusia 54 tahun itu kepada Indonesia.

Rekam jejak Milla mirip dengan Shin Tae-yong. Ia juga bergelimang gelar sewaktu masih aktif bermain. Milla pernah tiga kali menjuarai La Liga Spanyol bersama Barcelona pada 1984-85 dan Real Madrid pada 1994-1995 serta 1996-1997.

Milla menghabiskan karier sebagai pemain hanya untuk tiga klub, Barcelona pada 1984-1990, Real Madrid pada 1990-1997, dan Valencia pada 1997-2001.

Pensiun dari dunia sepak bola, Milla menjajaki karier sebagai pelatih dengan menangani klub kasta bawah Liga Spanyol, Puyol pada 2006.

Semusim bersama Pucol, Milla diangkat sebagai asisten pelatih di Getafe. Tidak berselang lama, pria kelahiran Teruel, Spanyol, didapuk sebagai pelatih Timnas Spanyol U-19 pada 2008 dan promosi ke Spanyol U-21 pada 2010.

Puncak kesuksesan Milla sebagai pelatih terjadi pada 2011 ketika ia membawa Spanyol U-21 menjuarai Euro U-21 2011. Ketika itu, komposisi pemainnya bermaterikan David de Gea, Thiago Alcantara, dan Juan Mata.

Setelah meraih trofi Piala Eropa U-21, Milla kembali naik batan sebagai pelatih Spanyol U-23. Namun, sepak terjangnya hanya sebentar.

Pada 2013, Milla merantau ke Jazirah Arab untuk menangani Al Jazira, klub Uni Emirat Arab (UEA) pada 2013.

Milla kembali ke Spanyol untuk melatih Lugo dan Real Zaragoza pada 2015-2016, sebelum menerima pinangan Timnas Indonesia pada 2017. PSSI menargetkan Milla untuk meraih medali emas di SEA Games 2017 dan berprestasi di Asian Games 2018.

Milla gagal memenuhi target PSSI. Di SEA Games 2017, Timnas Indonesia U-22 hanya mendulang medali perak. Di Asian Games 2018, laju timnas U-23 terhenti di babak 16 besar.

Usai Asian Games 2018, Milla pulang ke Spanyol. Posisinya digantikan oleh Bima Sakti lalu diambil alih oleh Simon McMenemy.

3 dari 5 halaman

Shin Tae-yong

Shin Tae-yong (c) Bola.com/M Iqbal Ichsan

Sebelum menekuni dunia kepelatihan, Shin Tae-yong adalah pemain dengan limpahan gelar di Korea Selatan. Tercatat, mantan pemain berposisi gelandang serang ini enam kali merengkuh trofi K League 1 bersama Seongnam Ilhwa Chunma pada 1993, 1994, 1995, 2001, 2002, dan 2003.

Shin Tae-yong banting setir menjadi pelatih pada 2005 setelah didapuk sebagai asisten pelatih klub Australia, Queensland Roar FC, klub terakhir yang dibelanya di sepak bola profesional.

Pengabdian Shin Tae-yong kepada Queensland Roar berakhir pada 2008 dan ia kembali ke Korea Selatan untuk menangani Seongnam. Bersama klub ini, ia sukses besar.

Shin Tae-yong berhasil mengantar Seongnam menjuarai Liga Champions Asia (LCA) pada 2010 dan Piala FA Korea Selatan setahun berselang.

Kebersamaan Shin Tae-yong bersama Seongnam berakhir pada 2012. Dua tahun kemudian, ia sempat menjabat sebagai caretaker Timnas Korea Selatan sebelum dipermanenkan menjadi pelatih Korea Selatan U-23.

Ia membawa Korea Selatan U-23 hingga babak perempat final Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil.

Selain bersama Korea Selatan U-23, Shin Tae-yong juga rangkap jabatan sebagai pelatih Korea Selatan U-20.

Tidak bertahan lama, Shin Tae-yong mendapatkan promosi jabatan. Ia dipilih sebagai pengganti Uli Stielike menjadi pelatih Korea Selatan senior pada 2017.

Shin Tae-yong berhasil meloloskan Korea Selatan ke Piala Dunia 2018 di Rusia. Taeguk Warriors, julukan tim itu, tersingkir di babak penyisihan.

Setidaknya, Shin Tae-yong mampu membuat juara bertahan Jerman bertekuk lutut setelah Korea Selatan menang 2-0.

Tidak lagi bersama Korea Selatan, Shin Tae-yong mendapatkan tawaran untuk melatih Timnas Indonesia. Dia setuju dengan kontrak selama empat tahun dengan peran sebagai manajer pelatih.

4 dari 5 halaman

Sergio Farias

Sergio Farias (c) Bola.com/Muhammad Iqbal Ichsan

Sergio Farias bukan pelatih sembarangan. Dia punya pengalaman 27 tahun berkarier sebagai pelatih. Pada 1998-1999, ia ditunjuk menjadi juru taktik Brasil U-20.

Dia juga merupakan pelatih yang mengantar Brasil U-17 menjuarai Campeonato Sul Americano pada 2000.

Saat menangani klub Korea Selatan, Pohang Steelers pada periode 2005-2009, Sergio Farias bergelimang gelar. Pelatih berusia 52 tahun ini membawa timnya merengkuh gelar K-League 2007, Korean FA Cup 2008, K-League Cup 2009, dan Liga Champions Asia 2009.

Adapun, penghargaan pribadinya ialah pelatih terbaik K-League pada 2007. Dia juga membawa Pohang Steelers menduduki peringkat ketiga Piala Dunia Antarklub 2009 ketika Barcelona menjadi juaranya.

Selain itu, Sergio Farias juga pernah melatih Guangzhou R&F (China) pada 2012-2013, Suphanburi (Thailand) pada 2014-2015 dan 2016-2017 serta terakhir di Gaish SC (Mesir) pada 2019.

Pada awal 2020, Persija Jakarta menunjuk Sergio Farias. Namun, penangguhan kompetisi membuat kontraknya diakhiri lebih cepat oleh tim ibu kota pada September 2020.

5 dari 5 halaman

Henk Wullems

Henk Wullems (c) Bola.com/UMM

Henk Wullems dikenal sebagai pelatih Timnas Indonesia pada 1996 hingga 1997. Namun, menjadi pelatih Timnas Indonesia bukan yang pertama bagi Henk Wullems saat memutuskan berkarier di Indonesia.

Wullems justru mengawalinya bersama Bandung Raya di Liga Indonesia 1995/1996. Pelatih asal Belanda itu sukses mengantar Bandung Raya menjadi juara dalam edisi kedua kompetisi profesional sepak bola Indonesia itu.

Kesuksesannya mengantar Bandung Raya menjadi juara adalah jalannya menuju kursi kepelatihan Timnas Indonesia. Pelatih asal Belanda itu ditunjuk jadi pelatih Tim Garuda selepas Piala Asia 1996.

Ia mempersiapkan tim untuk tampil di SEA Games 1997 yang digelar di Jakarta. Henk Wullems pun mengantarkan Timnas Indonesia meraih medali perak di pesta olahraga Asia Tenggara itu.

Hanya setahun jadi pelatih Timnas Indonesia pada 1997-1998, pelatih kelahiran 21 Januari 1939 itu kembali ke level klub. Kali ini ia bergabung bersama PSM Makassar.

Bersama skuad Juku Eja, Wullems yang diduetkan dengan pelatih lokal, Syamsuddin Umar, sukses membawa PSM menjuarai Liga Indonesia VI 1999/2000. Setelah itu, mantan pelatih NAC Breda di Liga Belanda itu sempat melatih Persikota Tangerang dan Persegi Gianyar.

Rekam jejak menjelaskan, Henk Wullems telah malang melintang di sepak bola Belanda sebelum mengadu nasib di Indonesia. Pelatih yang wafat pada 15 Agustus 2020 itu pernah menangani Willem II, NAC Breda hingga AZ Alkmaar.

Disadur dari: Bola.com/Penulis Muhammad Adiyaksa/Editor Wiwig Prayugi
Published: 15 Desember 2020

Berita Terkait

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR