FOLLOW US:

Bolanet Unseen: Sepuluh Jam Away Days Sleman, Hingga Jadi Saksi Kerusuhan Suporter

Kamis, 16-05-2019 21:42
Bolanet Unseen: Sepuluh Jam Away Days Sleman, Hingga Jadi Saksi Kerusuhan Suporter
Reporter Bolanet, Fitri Apriani (Baris 1, tengah) bersama rombongan 'Away Days' PSSI ke Sleman untuk menonton pertandingan PSS Sleman vs Arema FC © Fitri Apriani/Bola.net

Sejumlah awak media turut melakukan "away days" ke Sleman, saat pembukaan Shopee Liga 1 2019 yang disiarkan Indosiar. Ada 28 orang, termasuk reporter Bola.net, Fitri Apriani yang turut serta dalam rombongan ini. Kami berangkat pada Rabu (15/5), dini hari sekitar pukul 01.30 WIB.

Berangkat dari Sekretariat PSSI Pers yang berada di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, rombongan meluncur menembus gelapnya malam. Tapi semua tampak bersemangat untuk menjalani away days pertama di musim ini. Terlebih, kompetisi sudah libur sangat lama.

Pekan terakhir Liga 1 2018 berlangsung pada minggu kedua November. Sementara pada musim ini, kompetisi kasta tertinggi sepak bola di Tanah Air itu baru bergulir pada pekan kedua bulan Mei. Itu berarti, ada jeda waktu selama kurang lebih enam bulan.

Rombongan bergerak meninggalkan Sekretariat PSSI Pers dengan menggunakan bus berukuran sedang. Tidak lupa kami membawa bekal santap sahur, karena away days kali ini berlangsung pada saat Ramadhan.

Sekitar pukul 02.30 WIB di kawasan Cikarang, bekal santap sahur dibagi-bagi. Kami semua dengan lahap makan makanan sahur. Nasi putih dan ayam goreng menjadi menu sahur di dalam bus.

Bus baru berhenti di rest area kawasan Subang, sekitar pukul 04.15 WIB. Kami semua turun untuk bersiap-siapa menunaikan ibadah sholat subuh bagi yang beragama Islam. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan lagi.

Selama perjalanan selepas subuh, kami rombongan media lebih banyak tidur. Maklum saja, hampir tidak ada dari kami yang sebelumnya tidur, karena jadwal keberangkatan awaydays pada dini hari.

Perjalanan menuju Sleman secara umum lancar. Dari masuk Cikampek sampai Klaten, bus melalui perjalanan lewat jalan tol. Sehingga total perjalanan sekitar 10 jam saja, dari biasanya kalau tidak lewat tol bisa memakan waktu 13 jam.

Rombongan media tiba di Sleman pada pukul 12.00 WIB. Setelah itu langsung istirahat di penginapan, karena pertandingan baru berlangsung pada pukul 20.30 WIB, selepas sholat tarawih.

Bagaimana kelanjutan perjalanan kami? Simak selengkapnya di bawah ini.

1 dari 3

Perjalanan Menuju Stadion

Pada pukul 17.00 WIB, saya dan beberapa teman memilih untuk pergi ke Stadion Maguwoharjo, venue laga pembuka Shopee Liga 1 2019 antara PSS Sleman versus Arema FC. Kami pergi lebih awal dari rombongan lainnya karena ingin mencari euroria suporter PSS yg kembali merasakan atmosfer kasta tertinggi kompetisi terbaik Indonesia"

15 menit sebelum waktu berbuka puasa, kami tiba di stadion dengan menggunakan transportasi online. Di sana belum terlalu banyak penonton, tapi sudah banyak para pedagang asongan, terutama yang menjual pernak-pernik kedua kesebelasan yang akan bermain.

Saya pun sempat mengobrol dengan beberapa pedagang. Mereka semua berharap promosinya PSS ke Liga 1, bisa membuat omset dagangan mereka ikut naik.

Saya juga sempat menyambangi basecamp Slemania, kelompok suporter tertua yang dimiliki PSS. Letaknya menjadi satu dengan stadion. Di sana sudah ramai suporter, saya pun disambut baik.

Kelompok suporter yang didirikan pada 2000 itu sudah begitu lama merindukan PSS bermain di kompetisi strata tertinggi. Terakhir kali, PSS bermain di kasta atas saat Divisi Utama 2007. Itu berarti sudah lebih dari 10 tahun lalu.

2 dari 3

Jadi Saksi Kerusuhan

Waktu terus beranjak sampai tidak terasa kick off segera dimulai. Sayangnya saat masuk ke stadion, suasana di dalam ternyata sudah chaos. Ada saling lempar botol dan pecahan keramik antar suporter PSS dan Arema FC. Kejadian itu sempat reda dan pertandingan bisa dimulai.

Tapi apa daya provokasi yang tak kunjung berhenti dari kedua kubu suporter membuat kerusuhan kembali terjadi. Kali ini lebih parah, terutama dari tribun utara dan tribun barat.

Kekacauan itu membuat pertandingan dihentikan kurang lebih selama 30 menit. Ruang medis di dalam stadion sampai luber korban yang butuh perawatan karena luka.

Situasi itu membuat saya agak panik. Saya mencari tempat yang aman dari berbagai lemparan, karena tribun media ada di bagian barat.

Saya akhirnya memutuskan turun ke bawah, ke dalam stadion, di dekat ruangan medis dan match commisioner. Di sana suasananya terlalu ramai, dipenuhi banyak orang, baik yang berkepentingan maupun tidak.

Sementara itu di luar stadion terus terjadi perang batu antar suporter. Bus milik tim produksi siaran langsung pertandingan turut menjadi korban. Kaca bagian samping bus pecah.

Batu-batu berserakan, dan suasananya mencekam. Pertandingan yang selesai hampir jam setengah dua belas malam membuat press conference molor. Para pemain kedua tim juga sulit untuk keluar. Mereka baru bisa keluar dari stadion sekitar pukul 00.45 WIB. Untuk tim Arema FC harus memakai barracuda dan rantis untuk keluar dari area stadion.

3 dari 3

Meninggalkan Stadion

Kami rombongan media yang awaydays juga sulit keluar stadion. Bahkan sempat tertahan beberapa lama saat keluar dari stadion. Ternyata bus kami terjebak di antara ribuan Arema FC yang sedang dievakuasi.

Dengan segala susah payah, kami akhirnya bisa meninggalkan stadion. Melewati jalan yang sempit, meski beruntungnya masih bisa dilewati bis. Saat melewati jalan-jalan kampung itu kami tetap waspada, kalau-kalau ada lemparan baru dari luar, karena mengira kami rombongan salah satu kelompok suporter.

Akhirnya pukul 01.30 WIB kami tiba di penginapan. Tidak banyak waktu yang kami miliki, karena sebentar lagi harus santap sahur, dan supir bus sudah berpesan kalau berangkat pulang ke Jakarta harus jam 05.00 WIB.

Dengan mata yang masih mengantuk karena belum tidur dan lelah karena kejadian di stadion, kami berangkat pulang ke Jakarta. Bisa ditebak selama perjalanan kami lebih banyak tidur. Pada Kamis (16/5) sore pukul 17.00 WIB, kami pun tiba di ibu kota.

Away days ini memang menguras tenaga, karena dari berangkat sampai tiba kembali di Jakarta, hampir tidak ada waktu istirahat yang cukup selama 30 jam terakhir. Tapi kami tidak kapok, malah bertekad lagi untuk away days yang lebih jauh.