FOLLOW US:

Religiusitas dan Gebrakan Indra Sjafri di Timnas Indonesia

Selasa, 14-11-2017 18:56
Religiusitas dan Gebrakan Indra Sjafri di Timnas Indonesia
Pelatih Timnas Indonesia U-19 Indra Sjafri © PSSI
Bola.net - “Sepakbola tidak hanya mengandalkan dengkul dan kecerdasan, tetapi juga harus ditopang iman dan taqwa yang kuat,” demikian itu pernyataan dari pelatih timnas Indonesia U-19,  Indra Sjafri.

Kata tersebut terdengar begitu berbobot. Sepertinya memang itulah filosofi pokok pelatih 54 tahun tersebut sehingga membuatnya terbilang sukses sebagai pelatih. Bukan hanya sukses mendidik anak-anaknya mahir bermain bola, tapi juga menjadikan mereka sebagai manusia seutuhnya.  

Indra Sjafri adalah pelatih yang memiliki peran besar dalam meningkatkan kualitas sepakbola Indonesia, khususnya di timnas U-19. Ia memulai kariernya di dunia pelatih ditandai dengan menangani timnas Indonesia U-17 sejak 2011. Baru satu tahun di level tersebut, ia lalu melatih U-19.

Pria kelahiran Lubuk Nyiur, Batang Kapas, Sumatera Barat tersebut mencapai momen penting dalam kariernya ketika menjuarai Piala AFF pada 2013 . Pada tahun yang sama ia juga membawa mereka lolos ke putaran final Piala Asia U-19. Bisa dikatakan ini merupakan prestasi terbaik Indonesia dalam 27 tahun ke belakang di tingkat Asia.

Sisi lain yang bisa dibanggakan dari sosok dari Indra Sjafri adalah kepiawaiannya menemukan pemain. Ketika pencarian bakat pemain muda belum punya sistem yang memadai, ia rela turun tangan ke daerah-daerah untuk mencari bakat yang tersembunyi. Hasilnya, beberapa pemain yang sekarang melejit berkat campur tangannya adalah Evan Dimas Damono dan Egy Maulana Vikri. Dua pemain ini merupakan pemain yang sangat penting bagi masa depan sepakbola Indonesia.

Dan yang seperti kita lihat sendiri, di tangan Coach Indra, sepakbola Indonesia seolah-olah memiliki masa depan cerah. Jika melihat permainan mereka yang ciamik, kita kadang yakin bahwa Indonesia ke depannya mampu bermain di ajang Piala Dunia.


Kecerdasan


Pasukan Garuda Muda tak jarang menunjukkan gaya bermain sepakbola yang memanjakan mata. Para anak buah Indra itu bisa bermain dengan umpan-umpan yang akurat dan sentuhan yang mantap, bisa permainan kolektif dan individu, dan gol-gol indah itu tak kalah dari sepakbola Eropa. Itulah yang kadang membuat kita lupa bahwa sepakbola kita masih banyak carut-marutnya yang perlu dibenahi.

Lalu Indra menyebut itulah gaya sepakbola Indonesia asli. Jika ingin menang, maka timnya harus banyak menguasai bola.  Ia menampik jika gaya bermain timnya meniru Barcelona yang identik dengan tiki-taka. Justru ia menyebut gaya bermain Indonesia adalah gaya bermain pe-pe-pa (pendek-pendek-panjang).

“Indonesia harus punya pakaian sendiri. Cara bermain sendiri, filosofi bermain sendiri. Gaya permainan sendiri,” ia menjelaskan kenapa timnas tak boleh meniru gaya bermain tim luar negeri, karena selamanya tak akan cocok.

Indra sering menggunakan pola 4-3-3 dalam formasinya. Ini juga bukan hasil adopsi dari tim sepakbola luar. 4-3-3 bermula dari pengalamannya keliling di berbagai daerah. Ia banyak melihat sepakbola di daerah menggunakan formasi tersebut sehingga stok pemain untuk format tersebut cukup banyak.

Selain itu, 4-3-3 juga punya sejarah kuat di Indonesia. Ia mengungkapkan tim Indonesia relatif lebih sukses dalam perjalanannya ketika menggunakan format tersebut. Apalagi, format itu juga mendukung kedekatan antar pemain ketika bermain di atas lapangan.


Iman dan Taqwa


Di luar lapangan, anak asuh Indra juga mendapat pendidikan karakter dari nilai-nilai agama. Ia sering menginstruksikan pada anak didiknya untuk menjadi manusia yang baik: agar tidak sombong, menjaga kerendahan hati dan  menjaga profesionalisme.

Hasil dari pendidikan itu setidaknya tampak ketika mereka mencetak gol. Secara hampir bersamaan, mereka melakukan sujud sebagai tanda syukur kepada Tuhan. Pemandangan seperti ini sangat jarang ditemui atau bahkan tidak ada sebelum era Indra Sjafri.  

Menghormati orang tua juga menjadi elemen penting dalam pendidikan karakter skuat timnas besutan Indra. Maka adalah hal yang wajar ketika para pemain akan melakukan cium tangan ketika menyapa pelatihnya yang lebih tua.

Indra sangat menyadari pentingnya pendidikan ini untuk anak-anaknya. Ia tahu pada usia di bawah 19 tahun merupakan periode penting untuk menguatkan karakter baik bagi anak asuhnya. Maka selain segi teknis untuk sepakbola, mendidik menjadi manusia yang berakhlak adalah sorotan penting bagi Indra.


Indra Akan Diberhentikan PSSI?



Kabar yang sangat mengejutkan ketika PSSI disebut akan memutus kontrak Indra sebagai pelatih. Ia dinilai tak memenuhi target, yaitu untuk menjuarai Piala AFF tahun 2017 ini. Sebab dalam ajang itu, Garuda Muda hanya mampu keluar sebagai juara tiga.

Kehilangan Indra mungkin akan membuat sebagian dari kita merasa tidak terima. Sebab sebenarnya ia pantas mendapat tambahan waktu ketika kontraknya habis akhir tahun ini untuk memajukan sepakbola Indonesia. Sebab sebenarnya banyak pelatih yang tidak seperti Indra; mereka adalah pelatih yang hanya mengedepankan aspek teknis saja, namun sisi kemanusiaan terabaikan. Jarang ada pelatih yang bisa membangun kedua sisi tersebut.

Seperti pengakuan penggawa timnas U-19, Syahrian Abimanyu, yang mengatakan bahwa cara melatih Indra memang berbeda daripada yang lain. Membandingkan dengan pelatih yang pernah menangani Indonesia U-19, Eduard Jong, Indra Sjafri disebut melebihkan perhatiannya pada sisi kecerdasan pemain juga, selain kemampuan teknis di atas lapangan tentu saja.

"Iya tahun lalu juga saya ikut Piala AFF, waktu itu dilatih coach Eduard Tjong. Kalau yang tahun lalu itu kami bermain lebih mengeksploitasi kekuatan dan kecepatan. Akan tetapi, tahun ini bersama coach Indra Sjafri kami juga dituntut untuk lebih memakai otak," ucapnya.


Terima Kasih untuk Indra Sjafri


Kita perlu berterima kasih pada Indra yang telah membangun dasar-dasar sepakbola yang bagus untuk Indonesia ke depannya. Memang masih banyak yang perlu mendapat pembenahan. Tapi ia bisa membuat kita berharap bahwa timnas Indonesia bisa lebih baik.

Semoga ia akan terus berjalan mencari bakat-bakat fenomenal di pelosok-pelosok terpencil pinggiran Indonesia. Karena ia percaya bahwa bakat besar sepakbola Indonesia  bisa lahir di mana saja, bukan hanya di kota yang punya fasilitas relatif lengkap.

"Tuhan tidak pernah bilang menurunkan pemain-pemain berbakat hanya di kota-kota besar,"  ucapnya.

(bola/shd)