Prancis Belajar dari Luka

Prancis Belajar dari Luka
Para pemain Prancis merayakan kemenangan di akhir laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Paraguay vs Prancis di Philadelphia, Sabtu, 4 Juli 2026 (c) AP Photo/Martin Meissner

Bola.net - Ada kekalahan yang hanya tercatat sebagai hasil pertandingan. Namun, bagi Prancis, malam di Munich pada semifinal Euro 2024 berubah menjadi awal dari perjalanan panjang untuk membangun kembali identitas mereka.

Les Bleus sempat membuka harapan ketika Randal Kolo Muani mencetak gol cepat pada menit kesembilan. Akan tetapi, dua gol Lamine Yamal dan Dani Olmo dalam waktu singkat mengubah arah pertandingan sekaligus mengawali era dominasi Spanyol di sepak bola Eropa.

Bagi Didier Deschamps, hasil itu bukan sekadar kegagalan mencapai final. Kekalahan tersebut menjadi alarm bahwa generasi yang mengantar Prancis ke dua final Piala Dunia berturut-turut telah memasuki penghujung siklusnya.

"Kami menghadapi tim Spanyol dengan kualitas seperti ini. Kami harus tampil dalam performa terbaik, tetapi hari ini kami sedikit berada di bawah level tersebut. Saya tidak akan mencari alasan," kata Deschamps setelah pertandingan.

Saat Kekalahan Menjadi Titik Awal

Tidak banyak tim mampu mengubah kegagalan menjadi fondasi masa depan. Prancis memilih jalan itu dengan memulai regenerasi secara perlahan, bukan melalui perubahan besar dalam satu malam.

Generasi muda mulai mendapat ruang setelah Olimpiade Paris 2024 melalui penampilan Manu Kone, Desire Doue, dan Michael Olise. Bersamaan dengan itu, Antoine Griezmann, Olivier Giroud, Benjamin Pavard, hingga Kingsley Coman perlahan mengakhiri perjalanan mereka bersama tim nasional.

Deschamps juga mengubah cara bermain timnya. Formasi 4-3-3 yang digunakan di Euro 2024 bergeser menjadi 4-2-3-1 dengan orientasi menyerang yang memberi ruang lebih besar bagi kreativitas para pemain muda.

Dari Bertahan Menjadi Berani Menguasai Permainan

Saat menghadapi Spanyol di Euro 2024, Prancis lebih banyak menunggu dan mengandalkan transisi cepat. Pendekatan tersebut gagal membuahkan hasil meski mereka mampu menciptakan sejumlah peluang.

Hampir setahun kemudian, kedua tim kembali bertemu pada semifinal UEFA Nations League 2025. Walau kalah 4-5, Les Bleus memperlihatkan wajah berbeda dengan mencatatkan 24 tembakan, lebih banyak daripada 16 milik Spanyol.

Laga itu memperlihatkan perubahan yang mulai terbentuk. Kehadiran Michael Olise, Ousmane Dembele, dan Desire Doue di belakang Kylian Mbappe membuat serangan Prancis lebih variatif, sementara penguasaan bola tidak lagi sepenuhnya menjadi milik lawan.

Menatap Duel Baru dengan Kepercayaan Diri

Perjalanan menuju Piala Dunia 2026 memperlihatkan hasil dari proses yang dijalani Prancis. Tim tampil lebih tenang, lebih sabar, dan mampu menjaga keseimbangan antara menyerang serta bertahan.

Doue dan Dembele membawa mental juara dari level klub, sedangkan Olise berkembang menjadi penghubung penting di lini tengah. Mbappe pun memperlihatkan perubahan dengan kontribusi lebih besar saat melakukan tekanan kepada lawan.

Kesabaran itu terlihat ketika Prancis melewati Paraguay pada babak 16 besar dan Maroko di perempat final. Dua tahun setelah keseimbangan kekuatan bergeser di Munich, Les Bleus kembali berhadapan dengan Spanyol bukan sebagai tim yang masih mencari jati diri, melainkan sebagai kelompok yang telah belajar dari luka dan siap melakukan pembalasan.

Sumber: FIFA