Kisah Wojciech Szczesny di Barcelona: Dari Kiper Darurat Hingga Pahlawan Favorit Fans

Kisah Wojciech Szczesny di Barcelona: Dari Kiper Darurat Hingga Pahlawan Favorit Fans
Kiper Barcelona, Wojciech Szczesny, mengoper bola dalam pertandingan semifinal Copa del Rey melawan Atletico Madrid, Selasa (25/2/2025). (c) AP Photo/Joan Monfort

Bola.net - Suasana Camp Nou berubah menjadi lebih meriah pada menit-menit akhir kemenangan besar Barcelona atas Newcastle United di Liga Champions. Bukan hanya karena skor telak, tetapi juga karena satu momen yang melibatkan Wojciech Szczesny.

Ketika kiper veteran itu masuk sebagai pemain pengganti, ribuan suporter langsung berdiri dan memberi sambutan meriah. Bahkan chant unik “Szczesny fumador” menggema di stadion, merujuk pada reputasi sang penjaga gawang yang dikenal sebagai perokok.

Momen tersebut menjadi gambaran sempurna tentang bagaimana Szczesny, yang awalnya datang sebagai solusi darurat, justru menjelma menjadi salah satu figur kultus di Barcelona.

Dari Masa Pensiun ke Panggilan Darurat Barcelona

Kisah Szczesny di Barcelona bermula dari situasi yang tidak terduga. Pada Oktober 2024, klub Catalan itu kehilangan kiper utama sekaligus kapten mereka, Marc-Andre ter Stegen, yang mengalami cedera ACL.

Dalam kondisi darurat, Barcelona merekrut Szczesny sebagai agen bebas. Keputusan ini cukup mengejutkan karena sang kiper sebenarnya baru saja mengumumkan pensiun dari sepak bola profesional beberapa minggu sebelumnya setelah berpisah dengan Juventus.

Panggilan dari mantan rekan setimnya di tim nasional Polandia, Robert Lewandowski, ikut memengaruhi keputusan tersebut. Szczesny akhirnya menerima tantangan baru dan bergabung dengan Barcelona, membuka babak karier yang tak terduga di Spanyol.

Menjadi Kiper Utama di Era Hansi Flick

Meski datang sebagai solusi sementara, Szczesny perlahan membuktikan kualitasnya. Pada Januari 2025, ia bahkan menjadi pilihan utama pelatih Hansi Flick di bawah mistar gawang.

Penampilan konsisten membuatnya menggeser Inaki Pena dalam perebutan posisi kiper utama. Sepanjang musim 2024/2025, Szczesny tampil dalam 30 pertandingan dan mencatatkan 14 clean sheet.

Kontribusinya membantu Barcelona meraih treble domestik: La Liga, Copa del Rey, dan Supercopa de Espana. Perjalanan mereka di Liga Champions juga cukup jauh hingga mencapai semifinal sebelum akhirnya tersingkir oleh Inter.

Bagi para penggemar Barcelona, Szczesny dikenang sebagai pemain yang selalu siap ketika dibutuhkan.

Kepribadian Nyentrik yang Membuatnya Dicintai Fans

Namun daya tarik Szczesny tidak hanya datang dari performanya di lapangan. Kepribadian terbuka dan santainya membuatnya cepat menjadi favorit di ruang ganti maupun di kalangan suporter.

Salah satu hal yang paling sering dibicarakan adalah kebiasaannya merokok. Alih-alih menghindari topik tersebut, Szczesny justru menanggapinya dengan sikap yang sangat jujur.

Dalam wawancara dengan Mundo Deportivo pada November 2024, ia berkata:

“Dalam kehidupan pribadi saya ada beberapa hal yang tidak akan saya ubah, dan bukan urusan siapa pun jika saya merokok.”

Ia juga menambahkan bahwa kebiasaannya itu tidak memengaruhi performanya sebagai pemain.

“Saya bekerja dua kali lebih keras. Saya juga tidak melakukannya di depan anak-anak karena saya tidak ingin memberi contoh yang buruk.”

Peran Berubah, Status Legenda Tetap

Musim ini peran Szczesny memang tidak sebesar sebelumnya. Barcelona merekrut Joan Garcia dengan nilai transfer sekitar 25 juta euro, yang membuat penjaga gawang muda tersebut menjadi pilihan utama.

Szczesny hanya tampil beberapa kali ketika Garcia mengalami cedera meniskus sebagian pada awal musim. Namun setelah Camp Nou kembali dibuka pada akhir November, laga melawan Newcastle menjadi penampilan pertamanya di stadion tersebut musim ini.

Hubungannya dengan Garcia juga sangat baik. Kiper veteran itu bahkan disebut sangat terkesan dengan potensi penjaga gawang berusia 24 tahun tersebut dan tidak keberatan menjalani peran sebagai pelapis.

Menurut laporan internal klub, kontrak baru Szczesny yang disepakati pada musim panas lalu juga membantu memperbaiki situasi gajinya.

Pada musim sebelumnya ia bahkan hampir bermain tanpa bayaran karena sebagian penghasilannya digunakan untuk menyelesaikan kesepakatan pemutusan kontrak dengan Juventus.