FOLLOW US:


Skuad Emas Timnas Indonesia 1991, Apa Kabar Mereka Sekarang?

10-06-2020 14:31

 | Gia Yuda Pradana

Skuad Emas Timnas Indonesia 1991, Apa Kabar Mereka Sekarang?
Timnas Indonesia di SEA Games 1991 © Bola.com/Repro

Bola.net - Tahun 1991 merupakan tahun yang sangat spesial bagi sepak bola Indonesia. Pada tahun tersebut, Timnas Indonesia terakhir kali meraih gelar juara di ajang yang mereka ikuti, yakni SEA Games 1991.

Pada 2008, Timnas Indonesia memang bisa meraih gelar juara Piala Kemerdekaan. Namun, kemenangan pada ajang ini tak didapat melalui pertarungan di lapangan hijau. Libya, yang menjadi lawan Timnas Indonesia, pada laga final, memilih mengundurkan diri dan menolak melanjutkan laga. Libya mengaku telah terjadi pemukulan yang dilakukan oknum ofisial Timnas Indonesia kepada pelatih mereka, Gamal Adeen Abu Nowara.

Sukses Timnas Indonesia pada 1991 silam tak lepas dari kehadiran sosok-sosok yang menjadi legenda sepak bola Indonesia. Di bawah mistar gawang, tentu semua masih ingat keberadaan Eddy Harto, yang disebut kiper terbaik Indonesia sepanjang masa. Selain itu, masih ada nama-nama lain seperti Robby Darwis, Ferryl Raymond Hattu, Aji Santoso, Widodo C Putro, sampai sosok striker nyentrik Rochy Puttiray.

Berikut Bola.net berusaha menelusuri di mana sosok-sosok pahlawan tersebut saat ini, di saat talenta-talenta seperti Egy Maulana Vikry, Witan Sulaiman mulai bermekaran.

Simak artikel selengkapnya di bawah ini.

1 dari 4

Bawa 18 Pemain

Bawa 18 Pemain
Suporter Timnas Indonesia © Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Dalam ajang yang dihelat di Manila tersebut, Pelatih Timnas Indonesia saat itu, Anatoly Polosin, membawa serta 18 pemain. Tak hanya pemain-pemain senior seperti Ferryl Raymond Hattu dan Bambang Nurdiansyah, pelatih asal Uni Soviet ini juga membawa pemain-pemain muda macam Aji Santoso, Widodo C Putro, dan Rochy Putiray.

Berikut daftar 18 pemain yang memperkuat Timnas Indonesia pada ajang tersebut.

Edy Harto, Erick Ibrahim, Ferryl Raymond Hattu, Robby Darwis, Herrie Setyawan, Heriansyah, Sudirman, Toyo Haryono, Aji Santoso, Salahudin, Maman Suryaman, Widodo C Putro, Hanafing, Kashartadi, Peri Sandria, Rochy Putiray, Yusuf Ekodono, dan Bambang Nurdiansyah.

2 dari 4

Menjadi Pelatih

Menjadi Pelatih
Pelatih Persebaya Surabaya, Aji Santoso © Official Persebaya

Meneruskan karir di lapangan hijau merupakan pilihan sebagian besar skuad 91. Tercatat 13 orang dari skuad emas tersebut memilih beralih peran menjadi pelatih.

Duo kiper Timnas Indonesia 91, Eddy Harto dan Erick Ibrahim saat ini sama-sama melatih di tim Liga 1. Eddy menjadi pelatih kiper Persiraja Banda Aceh. Sebelumnya, ia juga sempat menjadi pelatih kiper Timnas Indonesia. Sementara, Erick menjadi pelatih kiper Persela Lamongan.

Selain dua kiper ini, menjadi pelatih juga menjadi pilihan Aji Santoso dan Widodo C Putro. Dua legenda sepak bola Indonesia ini kini sudah mengantongi lisensi AFC Pro dan menakhodai klub-klub Liga 1. Aji menangani Persebaya Surabaya, sedangkan Widodo mengarsiteki Persita Tangerang. Dua pelatih ini juga pernah menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia U-23 untuk SEA Games 2011 silam.

Tak hanya menjadi pelatih kepala, ada juga alumnus Timnas Indonesia 91 yang menjadi asisten pelatih. Mereka adalah Herrie Setyawan dan Sudirman. Herrie saat ini menjadi asisten pelatih di PSM Makassar. Sementara, Sudirman berstatus sebagai asisten pelatih di Persija Jakarta.

Di klub-klub Liga 2 pun ada sejumlah alumnus Timnas Indonesia 91. Mereka adalah Salahudin, Robby Darwis, Yusuf Ekodono, Bambang Nurdiansyah, dan Kashartadi.

Salahudin, saat ini berstatus sebagai pelatih kepala Persis Solo. Robby Darwis menangani PSKC Cimahi. Yusuf Ekodono meneruskan karir kepelatihannya bersama PS Hizbul Wathan, Bambang Nurdiansyah melatih Muba Babel United, dan Kashartadi, terakhir, menangani Sriwijaya FC.

Dari deretan nama ini, Robby Darwis bisa dibilang memiliki keunikan. Pasalnya, pria yang kini berusia 55 tahun tersebut juga berstatus sebagai karyawan sebuah bank milik negara.

Selain menangani klub-klub profesional, ada juga pelatih yang menangani tim-tim non-profesional. Rochy Putiray misalnya. Pria nyentrik ini sempat membesut timnas pelajar dan tim sepak bola putri.

Tak hanya Rochy, Peri Sandria pun menangani tim non-profesional. Setelah sempat menjadi asisten pelatih di sejumlah tim Indonesia, saat ini ia menangani tim sepak bola salah satu kecabangan angkatan bersenjata Indonesia.

3 dari 4

Menjadi Instruktur

Menjadi Instruktur
Hanafing © konijatim

Tak hanya menjadi pelatih, ada juga alumnus Timnas Indonesia 91 yang meneruskan karirnya di dunia sepak bola dengan menjadi instruktur kepelatihan. Salah satu sosok terkemuka di bidang ini adalah Hanafing.

Hanafing, yang saat ini sudah mengantongi lisensi AFC Pro tersebut, merupakan salah satu instruktur kepelatihan yang dimiliki PSSI. Ia sudah menuntaskan kursus instruktur kepelatihan pada 2017 lalu.

Selain Hanafing, ada lagi dua alumnus Timnas Indonesia 91 yang menjadi instruktur. Mereka adalah Heriansyah dan Maman Suryaman. Sebelum menjadi instruktur, Heriansyah sempat menjadi pelatih Putra Samarinda U-21. Sementara Maman Suryaman sempat melatih Persija Jakarta. Ia pun sempat menjadi kandidat pelatih Timnas U-19.

Menjadi pemilik sekolah sepak bola juga jalan yang diambil salah satu alumnus Timnas Indonesia 91. Sosok yang memilih jalan ini adalah Toyo Haryono.

Toyo memiliki SSB yang dinamai seperti namanya sendiri. SSB Toyo Haryono, yang didirikan pada 2016, ini berada di kawasan Jakarta Timur.

4 dari 4

Petinggi BUMN

Dari semua alumnus Timnas Indonesia 91, Ferryl lah yang memilih jalan berbeda. Pria yang gaya bermainnya kerap disebut mirip Franz Beckenbauer ini justru menekuni karir sebagai pekerja kantoran.

Ferryl berstatus sebagai pegawai Petrokimia Gresik, sebuah BUMN yang bergerak di bidang produksi pupuk. Tak sekadar pegawai biasa, pria berusia 57 tahun ini sempat menjadi Direktur Utama PT Graha Sarana Gresik, anak perusahaan Petrokimia yang bergerak di bidang perdagangan mineral, logam, dan kimia.

Kendati tak lagi aktif berkecimpung di sepak bola Indonesia, nama Ferryl sudah kadung menjadi legenda. Bahkan, hampir setiap menjelang kongres pemilihan Ketua Umum PSSI, sosoknya terus disebut sebagai kandidat paling pas menakhodai federasi sepak bola Indonesia itu.

(Bola.net/Dendy Gandakusumah)