Benteng Es Bodo/Glimt, Simbol Kejatuhan Lawan-lawan Elite

Gia Yuda Pradana | 18 Februari 2026 17:04
Benteng Es Bodo/Glimt, Simbol Kejatuhan Lawan-lawan Elite
Penyerang Manchester City, Erling Haaland saat beraksi melawan Bodo/Glimt di Liga Champions, 21 Januari 2026. (c) Fredrik Varfjell/NTB via AP

Bola.net - Laga Bodo/Glimt vs Inter Milan menjadi perjalanan ke jantung Grande Inverno, wilayah di atas Lingkar Arktik yang kini dikenal sebagai arena yang menjatuhkan banyak klub besar Eropa. Kota berpenduduk sekitar 50 ribu jiwa itu bukan lagi sekadar tujuan wisata aurora borealis, tetapi panggung sepak bola elite.

Pertandingan Bodo/Glimt vs Inter pada leg pertama play-off fase gugur Liga Champions 2025-2026 akan digelar di Aspmyra Stadion. Laga UEFA Champions League ini dijadwalkan kick-off Kamis, 19 Februari 2026, pukul 03.00 WIB.

Advertisement

Aspmyra Stadion berdiri seperti benteng es dengan catatan kandang yang sulit ditembus dalam kompetisi Eropa. Bodo/Glimt hanya kalah sembilan kali dari 43 pertandingan Eropa yang dimainkan di stadion tersebut.

Pertanyaan besar muncul saat pesawat mendarat di bandara kecil yang dikelilingi hamparan putih tanpa ujung. Bagaimana klub dari kota terpencil dengan suhu bisa turun hingga minus 20 derajat berubah menjadi lawan yang membuat klub-klub elite berhitung ulang.

1 dari 3 halaman

Identitas Kota yang Menjadi Kekuatan

Identitas Kota yang Menjadi Kekuatan

Selebrasi peman Bodo Glimt usai mengalahkan Atletico Madrid di Liga Champions, 29 Januari 2026. (c) AP Photo/Manu Fernandez

Bodo dahulu hanyalah kota transit bagi wisatawan yang berburu aurora borealis. Empat bulan hampir tanpa matahari dan angin kencang membuatnya terasa jauh dari pusat sepak bola Eropa.

Sepak bola mengubah arah sejarah kota ini dalam satu dekade terakhir. Klub tersebut naik dari divisi dua menjadi empat kali juara Norwegia dan menembus semifinal Liga Europa musim lalu.

Mereka telah mengalahkan Manchester City dan Atletico Madrid musim ini. Di masa lalu, Roma asuhan Jose Mourinho kebobolan enam gol dan Lazio milik Maurizio Sarri tersingkir dari Eropa.

Warna kuning mengikat kota dan tim sebagai simbol identitas bersama. Bangku taman bersalju hingga sekolah dekat stadion memantulkan warna yang sama dengan seragam klub.

2 dari 3 halaman

Scouting, Data, dan Faktor X

Scouting, Data, dan Faktor X

Selebrasi pemain Bodo Glimt, Fredrik Sjovold (kanan) usai mencetak gol ke gawang Atletico Madrid, 29 Januari 2026. (c) AP Photo/Manu Fernandez

Direktur olahraga Havard Sakariassen menjelaskan bahwa keberhasilan lahir dari metode khusus yang mereka sebut “varres mate” atau “cara kami”. Ia berkata, “Kami memilih pemain juga berdasarkan faktor X yang tidak kami ungkapkan.”

Pendekatan ini sejalan dengan filosofi pelatih Kjetil Knutsen yang terinspirasi Marcelo Bielsa dan pressing agresif. Fokus utama adalah performa serta rasa memiliki terhadap kota, bukan sekadar hasil akhir.

Bodo/Glimt membangun perusahaan data bernama Fokus untuk mengumpulkan informasi pemain. Model ini juga digunakan klub Norwegia lain seperti Viking dan Brann dalam pengembangan skuad.

Target jangka panjang mereka adalah memiliki 70 persen pemain yang berasal dari wilayah Norwegia utara. Saat ini sudah ada 11 pemain lokal yang berasal dari Tromso hingga Trondheim.

3 dari 3 halaman

Mentalitas Arktik dan Masa Depan Stadion

Mentalitas Arktik dan Masa Depan Stadion

Pemain Bodo/Glimt, Jens Petter Hauge, merayakan golnya dalam pertandingan Liga Champions melawan Manchester City, Rabu (21/1/2026). (c) Fredrik Varfjell/NTB via AP

Aspek mental menjadi fondasi penting. Dengan itu, pemain mampu mengubah kecemasan menjadi energi dalam setiap pertandingan besar, sebuah penegasan bahwa kekuatan psikologis setara dengan taktik di lapangan.

Sejak 2016, klub menghasilkan sekitar 80 juta euro dari penjualan pemain (sekitar Rp1,36 triliun). Dana tersebut menopang pembangunan tim sekaligus rencana infrastruktur baru.

Pada 2028, stadion baru berkapasitas 10 ribu penonton akan berdiri dengan nama Arena dell'Artico. Arena ini menjadi simbol bahwa Bodo tidak lagi kota singgah, melainkan tujuan sepak bola.

Pertandingan Bodo/Glimt vs Inter akan menguji apakah benteng es itu masih mampu menahan arus raksasa Italia. Di Grande Inverno, sepak bola telah menemukan rumah yang tidak biasa, tetapi berbahaya bagi setiap tamu.

Sumber: La Gazzetta dello Sport

LATEST UPDATE