AS Monaco: Klub Elite dari Wilayah Mini dan Bergelimang Trofi
Gia Yuda Pradana | 23 Juni 2025 10:42
Bola.net - AS Monaco mungkin bukan klub dari negara besar, tetapi sejarah dan prestasinya membuat mereka layak disejajarkan dengan raksasa Eropa. Klub ini berbasis di Fontvieille, distrik di Monako—negara terkecil kedua di dunia setelah Vatikan. Meski wilayahnya mini, ambisi Monaco tak pernah mengecil.
Secara administratif, Monako bukan bagian dari Prancis. Namun, dalam sepak bola, mereka adalah anggota resmi Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) dan berlaga di Ligue 1. Dengan stadion ikonik Stade Louis II di tepi Laut Mediterania, Monaco menjamu lawan-lawannya dalam atmosfer eksklusif yang tak banyak dimiliki klub lain.
Warna merah-putih menjadi identitas yang melekat. Dari Thierry Henry hingga Kylian Mbappe, para legenda pernah memakai seragam ini. Kini, Adi Hutter memimpin Monaco menatap musim 2025/26 dengan ambisi untuk kembali berbicara banyak di Eropa.
Delapan Gelar Ligue 1
Ligue 1 adalah panggung utama bagi kejayaan domestik AS Monaco. Sepanjang sejarahnya, klub ini sudah mengoleksi delapan trofi liga, membuktikan eksistensi mereka sebagai salah satu klub elite di Prancis. Trofi perdana diraih pada musim 1960/61, sementara yang terakhir pada 2016/17.
Musim 2016/17 menjadi salah satu yang paling berkesan. Monaco finis dengan 95 poin, unggul delapan poin dari Paris Saint-Germain. Tim asuhan Leonardo Jardim mencetak 107 gol dalam 38 laga, dengan Radamel Falcao mencetak 21 gol dan Kylian Mbappe muda menyumbang 15 gol.
Monaco menjadi juara pada musim 1960/61, 1962/63, 1977/78, 1981/82, 1987/88, 1996/97, 1999/2000, dan 2016/17. Prestasi lintas dekade ini menegaskan bahwa dominasi Monaco bukan hanya soal momen, tapi juga soal konsistensi.
Trofi Domestik Lainnya: Dari Coupe de France hingga Trophee des Champions
Tak hanya Ligue 1, AS Monaco juga berprestasi di kompetisi domestik lainnya. Mereka telah lima kali menjuarai Coupe de France, piala bergengsi kedua di Prancis. Gelar-gelar itu datang pada musim 1959/60, 1962/63, 1979/80, 1984/85, dan 1990/91.
Monaco juga mencicipi sukses di Coupe de la Ligue pada musim 2002/03—satu-satunya gelar mereka di ajang itu. Di Trophee des Champions, mereka berjaya empat kali: 1961, 1985, 1997, dan 2000. Ajang ini mempertemukan juara liga dan piala domestik, semacam Piala Super di negara lain.
Kemenangan-kemenangan ini mencerminkan kekuatan manajerial dan strategi klub. Di tengah persaingan ketat dengan PSG, Marseille, dan Lyon, Monaco tetap tampil sebagai penantang serius, bahkan dengan sumber daya dan wilayah yang lebih kecil.
Mimpi yang Hampir Menjadi Nyata di Eropa
Meski belum pernah mengangkat trofi kontinental, AS Monaco sempat berada sangat dekat dengan kejayaan Eropa. Pada musim 1991/92, mereka lolos ke final European Cup Winners’ Cup, tapi kalah 0-2 dari Werder Bremen. Itu menjadi momen perkenalan Monaco di panggung besar.
Musim 2003/04 jadi catatan emas lainnya. Bersama pelatih Didier Deschamps, Monaco melangkah ke final Liga Champions. Tim yang berisi Patrice Evra, Ludovic Giuly, dan Fernando Morientes ini akhirnya kalah 0-3 dari Porto yang dilatih Jose Mourinho dalam laga final di Gelsenkirchen.
Pada musim 2024/25, Monaco kembali ke Liga Champions setelah enam musim absen. Namun, mereka harus puas tersingkir di play-off fase gugur usai kalah 0-1 dari Benfica di Stade Louis II dan imbang 3-3 di Lisbon. Sebuah pengingat bahwa jalan menuju kejayaan Eropa masih penuh tantangan.
Monaco: Trofi, Tradisi, dan Harapan yang Tak Pernah Padam
AS Monaco membuktikan bahwa kejayaan tak harus datang dari klub di negara besar. Dengan koleksi trofi domestik Prancis yang lengkap dan jejak kuat di Eropa, Monaco adalah salah satu klub paling berprestasi di Prancis.
Musim 2025/26 bisa menjadi titik balik lain. Monaco selalu punya kemampuan untuk mengejutkan—dan dunia tahu itu.
Kini, ketika menyebut nama Monaco, orang tak hanya ingat kemewahan Monte Carlo. Mereka juga mengingat stadion di tepi laut, seragam merah-putih yang berani, dan sejarah panjang sebuah klub yang tak pernah lelah mengejar kejayaan.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Thomas Tuchel Jadi Biang Keladi Tersungkurnya Inggris
Piala Dunia 16 Juli 2026, 08:18
-
Rating Pemain Argentina usai Singkirkan Inggris: Messi Terbaik!
Piala Dunia 16 Juli 2026, 07:51
-
Man of the Match Inggris vs Argentina: Lionel Messi
Piala Dunia 16 Juli 2026, 04:35
LATEST UPDATE
-
Jadwal Lengkap Piala Presiden 2026
Bola Indonesia 16 Juli 2026, 19:15
-
Resmi Gabung Millwall, Elkan Baggott Bidik Promosi ke Premier League
Liga Inggris 16 Juli 2026, 18:12
-
Argentina Terancam Sanksi FIFA usai Bentangkan Spanduk Malvinas
Piala Dunia 16 Juli 2026, 15:23
-
Lionel Messi Lawan Inggris: Jalan-jalan tapi Mematikan
Piala Dunia 16 Juli 2026, 13:40
-
Sandy Walsh Janjikan yang Terbaik untuk Persib
Bola Indonesia 16 Juli 2026, 13:30
-
Satu Lagi Alasan untuk Menyebut Lionel Messi sebagai The GOAT
Piala Dunia 16 Juli 2026, 12:53
-
4 Pelajaran dari Kelolosan Argentina ke Final: Ada Satu Kelemahan Fatal
Piala Dunia 16 Juli 2026, 11:00
-
Argentina Menjadi Pengingat Bahwa Inggris Belum Banyak Berubah
Piala Dunia 16 Juli 2026, 10:29
LATEST EDITORIAL
-
6 Alternatif Enzo Fernandez untuk Real Madrid
Editorial 3 Juli 2026, 14:19
-
Makin Panas! 5 Opsi Klub Baru Julian Alvarez, Barcelona Jadi Tujuan Impian
Editorial 24 Juni 2026, 15:34
-
6 Kemenangan Terbesar dalam Sejarah Piala Dunia
Editorial 15 Juni 2026, 16:55









