CEO Cloudflare Ungkap Penyebab X dan ChatGPT Lumpuh: Bukan Serangan Siber
Editor Bolanet | 19 November 2025 16:02
Bola.net - Operasional bisnis digital skala global mengalami kelumpuhan signifikan pada Selasa malam akibat kegagalan infrastruktur utama di Cloudflare. Layanan vital seperti X, ChatGPT, hingga Canva tidak dapat diakses yang mengakibatkan terhentinya aktivitas pengguna di berbagai negara.
Insiden ini menyoroti tingginya ketergantungan ekosistem ekonomi digital dunia pada segelintir penyedia layanan infrastruktur internet. Tercatat sekitar 20 persen lalu lintas web global sangat bergantung pada stabilitas jaringan perusahaan tersebut.
Investigasi internal mengungkap bahwa akar permasalahan bukan berasal dari serangan siber eksternal melainkan kesalahan sistem internal. Gangguan fatal ini bermula dari fitur Bot Management yang seharusnya berfungsi mengamankan jaringan klien dari trafik berbahaya.
Manajemen puncak Cloudflare segera merespons situasi krisis ini untuk menjaga kepercayaan pasar dan transparansi publik. CEO Matthew Prince bahkan menyebut insiden kali ini sebagai gangguan paling berat yang dialami perusahaan sejak tahun 2019.
Penjelasan rinci mengenai pemicu teknis dan dampaknya terhadap pelanggan korporasi kini telah dibuka ke publik. Berikut adalah analisis mendalam mengenai kronologi kegagalan sistem yang memicu efek domino pada layanan internet dunia.
Analisis Kegagalan Sistem Manajemen Bot
Gangguan bermula dari malfungsi pada sistem manajemen bot yang dirancang untuk memfilter akses jaringan secara otomatis. Fitur ini memegang peranan krusial dalam mengatur lalu lintas data melalui layanan Content Delivery Network (CDN).
Matthew Prince menjelaskan mekanisme spesifik yang menjadi titik awal kegagalan dalam arsitektur internal perusahaan.
"Fitur ini biasanya bertugas mengatur dan membatasi bot yang mengakses situs melalui layanan Content Delivery Network (CDN) mereka," sebagaimana dikutip dari newsroom perusahaan, Rabu (19/11/2025).
Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa masalah inti muncul dari perubahan perilaku query pada basis data ClickHouse. Sistem basis data ini digunakan secara intensif untuk menilai dan menganalisis pola bot di seluruh jaringan.
Dampak Fatal Pembaruan Konfigurasi
Cloudflare menegaskan bahwa insiden ini tidak memiliki keterkaitan dengan teknologi AI generatif, masalah DNS, ataupun serangan siber. Masalah berpusat pada sistem machine learning yang menggunakan file konfigurasi dengan pembaruan berkelanjutan.
Matthew mengatakan, “sistem machine learning Cloudflare menggunakan file konfigurasi yang diperbarui terus-menerus untuk memberikan skor bot pada setiap permintaan."
Akumulasi data yang tidak terkontrol menyebabkan ukuran file konfigurasi tersebut membengkak dengan cepat hingga melampaui batas memori sistem. Kondisi overflow ini mengakibatkan file tersebut memuat banyak duplikasi baris fitur yang membebani kinerja.
"File ini mengenali karakteristik yang menunjukkan aktivitas bot, dan akhirnya berakibat file tersebut berisi banyak dupikasi baris fitur," katanya.
Paralisis Layanan Digital Global
Runtuhnya sistem proxy inti menyebabkan pelanggan yang menerapkan aturan pemblokiran bot secara tidak sengaja memutus akses bagi pengguna asli. Trafik dari pengguna valid dianggap sebagai aktivitas bot sehingga koneksi diputus secara otomatis oleh sistem.
Platform besar seperti X dan ChatGPT mengalami kelumpuhan total selama beberapa jam pada malam tanggal 18 November 2025. Situs pemantau Downdetector mencatat ada sekitar 1.016 laporan dengan 59 persen pengguna mengalami kegagalan koneksi ke server.
Pengguna platform media sosial milik Elon Musk mengeluhkan linimasa mereka hanya menampilkan pesan kesalahan tanpa konten.
"BTW, ini Twitter error kah? Dua akun page 'aren’t loading'. Lah dah bisa lagi. Mendadak error keknya haha. Lah ga bisa lagi," kata Sulung, salah satu tim redaksi Liputan6.com, lewat pesan singkat.
Langkah Mitigasi Risiko Infrastruktur
Cloudflare telah menyiapkan empat langkah strategis untuk mencegah terulangnya gangguan serupa di masa depan. Salah satu prioritasnya adalah memperketat proses ingestion file konfigurasi internal selayaknya memperlakukan input dari pengguna.
Perusahaan juga akan mengaktifkan lebih banyak global kill switches untuk mematikan fitur secara cepat saat terjadi kegagalan sistem. Selain itu, mereka berupaya menghilangkan kemungkinan laporan galat atau core dump membebani sumber daya sistem secara berlebih.
Insiden ini menggarisbawahi risiko sistemik akibat semakin terpusatnya layanan internet pada beberapa penyedia besar. Meskipun risiko gangguan skala luas tetap ada, rangkaian protokol mitigasi baru ini diharapkan dapat meminimalisir probabilitas kejadian serupa.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Apakah Ada Kenaikan Gaji PNS 2026? Ini Kata Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
News 2 Januari 2026, 09:48
-
Lowongan Kerja Shopee Indonesia: Posisi Campaign Marketing Entry Level
News 31 Desember 2025, 20:42
-
Datang ke Sidang Cerai dengan Ekspresi Tenang, Atalia Praratya: Mohon Doanya Saja
News 31 Desember 2025, 20:38
-
Mendagri Pastikan Pemerintah Berikan Segalanya untuk Penanganan Bencana
News 31 Desember 2025, 15:45
-
Klarifikasi BPBD Sumut Soal Kontainer Bantuan Aceh yang Viral: Ada Kesalahpahaman Informasi
News 31 Desember 2025, 15:29
LATEST UPDATE
-
Persaingan Ketat Lima Tim Teratas Liga Italia Serie A 2025-2026
Liga Italia 13 Januari 2026, 17:47
-
Madura United Fokus Benahi Tim jelang Putaran Kedua BRI Super League 2025/26
Bola Indonesia 13 Januari 2026, 17:26
-
Tambah 3 Rider Muda, Ini Daftar 9 Anak Didik Valentino Rossi di VR46 Riders Academy 2026
Otomotif 13 Januari 2026, 17:02
-
Cek Pembagian Pot Drawing Piala AFF 2026: Posisi Timnas Indonesia Sangat Mencekam!
Tim Nasional 13 Januari 2026, 16:59
-
Jadwal Lengkap Carabao Cup 2025/2026
Liga Inggris 13 Januari 2026, 16:11
-
Prediksi Susunan Pemain Manchester City Lawan Newcastle: Haaland Jadi Andalan
Liga Inggris 13 Januari 2026, 16:01
-
Ucapan Joan Laporta Terbukti: Kekacauan di Real Madrid dan Akhir Xabi Alonso
Liga Spanyol 13 Januari 2026, 15:44
LATEST EDITORIAL
-
Pemain yang Diuntungkan dan Dirugikan dari Pemecatan Xabi Alonso di Real Madrid
Editorial 13 Januari 2026, 13:45
-
5 Klub Potensial untuk Xabi Alonso Setelah Pergi dari Real Madrid
Editorial 13 Januari 2026, 13:22
-
Warisan Terakhir Ruben Amorim: 4 Nama Target yang Masih Bisa Direkrut MU
Editorial 12 Januari 2026, 15:17
-
8 Mantan Anak Buah Ole Gunnar Solskjaer yang Masih Bertahan di Manchester United
Editorial 9 Januari 2026, 11:22








