
Bola.net - Munchen kembali menyambut mimpi. Inter Milan resmi mengamankan tempat di final Liga Champions musim 2024/2025 setelah mengalahkan Barcelona dalam duel dua leg yang menggila. Di Giuseppe Meazza, laga berakhir dengan skor 4-3 setelah melalui perpanjangan waktu, melengkapi hasil imbang 3-3 di Estadi Olimpic Lluis Companys.
Pertandingan penuh drama itu menampilkan segalanya. Lautaro Martinez membuka keunggulan, Hakan Calhanoglu menggandakannya dari titik putih, lalu Barcelona bangkit lewat Eric Garcia, Dani Olmo, dan Raphinha. Namun, Francesco Acerbi menyelamatkan Inter di injury time, kemudian Davide Frattesi mencetak gol kemenangan, dan Yann Sommer tampil heroik di bawah mistar.
Kini, di final ketujuh mereka, Inter tinggal selangkah lagi untuk menambah perolehan gelarnya menjadi empat. Lawan yang akan dihadapai adalah PSG atau Arsenal, dua tim dengan cerita Eropa mereka masing-masing.
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru seputar Liga Champions, kamu bisa join di Channel WA Bola.net dengan KLIK DI SINI.
Wina 1964: Awal Kejayaan dari Kota Musik

Inter pertama kali mencium aroma kejayaan Eropa di Wina, 27 Mei 1964. Saat itu, mereka menumbangkan raksasa Real Madrid dengan skor 3-1 dalam partai final di Praterstadion. Dua gol Sandro Mazzola dan satu dari Aurelio Milani menjadi saksi lahirnya raja baru Eropa.
Kemenangan itu membuat Milan menjadi kota pertama dengan dua juara Eropa. AC Milan sebelumnya menjadi juara pada 1963 dan kini giliran rival sekota mereka yang menguasai benua.
Di bawah asuhan Helenio Herrera, Inter memperkenalkan catenaccio kepada dunia. Sebuah sistem bertahan yang seakan ditakdirkan untuk malam-malam besar seperti ini.
San Siro 1965: Takhta Dipertahankan di Kandang Sendiri

Setahun berselang, Inter kembali menuliskan kisah manis di kandang sendiri, San Siro. Pada 27 Mei 1965, mereka menang tipis 1-0 atas Benfica berkat gol Jair. Itu menjadi kali terakhir hingga kini sebuah tim menjuarai Liga Champions di stadionnya sendiri.
Tak mudah bagi Inter untuk sampai ke sana. Mereka harus menyingkirkan Dinamo Bucuresti, Rangers, dan Liverpool. Namun, di final, satu momen dari Jair cukup untuk mempertahankan mahkota.
Inter menjadi klub pertama yang menjuarai dua final berturut-turut, dengan salah satunya di kandang sendiri. Italia pun merayakan tiga gelar berturut-turut, dimulai dari AC Milan di 1963.
Lisbon 1967: Catenaccio Tersungkur oleh Serangan Total

Namun, dongeng Inter tak selalu berakhir bahagia. Pada 25 Mei 1967, mereka tumbang 1-2 dari Celtic di final yang digelar di Estadio Nacional, Lisbon. Mazzola sempat membawa Inter unggul lewat penalti, tapi Celtic membalikkan keadaan lewat Tommy Gemmell dan Stevie Chalmers.
Itu menjadi kemenangan pertama Celtic di ajang ini dan menjadikan mereka tim Britania pertama yang mengangkat trofi. Gaya menyerang ala Celtic dianggap sebagai 'kemenangan sepak bola' atas taktik bertahan Inter.
Celtic era itu dijuluki 'Lisbon Lions' dan dilabeli sebagai tim terbaik sepanjang sejarah klub. Inter pun pulang dengan luka dan pelajaran pahit dari tanah Portugal.
Rotterdam 1972: Total Football Menenggelamkan Inter

Lima tahun berselang, Inter kembali mencicipi final. Namun, kali ini, mereka dihancurkan oleh Ajax dan total football milik Johan Cruyff. Di De Kuip, Rotterdam, dua gol Cruyff di babak kedua membuat Inter tak berdaya.
Inter kembali mengandalkan catenaccio, tapi strategi itu tak sanggup menahan gempuran Ajax yang bermain dengan intensitas dan kreativitas tinggi. Kekalahan 0-2 itu mengukuhkan dominasi sepak bola Belanda di Eropa.
"Ini adalah puncak dari total football," begitu narasi media Belanda pascalaga. Inter pun kembali harus merelakan trofi melayang ke tangan lawan yang lebih progresif.
Madrid 2010: Bangkit dari Abu

Setelah nyaris empat dekade tanpa kejayaan Eropa, Inter bangkit di era Jose Mourinho. Final 2010 di Santiago Bernabeu menjadi panggung Diego Milito. Dua golnya membawa Inter menang 2-0 atas Bayern Munchen dan mengakhiri puasa gelar sejak 1965.
“Kemenangan ini membawa kebahagiaan luar biasa,” ucap Milito seusai pertandingan. “Kami pantas mendapatkannya.” Mourinho menjadi arsitek dari keajaiban itu, tapi kemudian pergi mengejar impian bersama Real Madrid.
“Inter adalah tim paling efektif,” akui kapten Bayern, Mark van Bommel, mengakui kehebatan taktik bertahan-berubah-menyerang ala Mourinho. Inter menyelesaikan musim dengan treble winner, pertama dalam sejarah sepak bola Italia.
Istanbul 2023: Kembali ke Peta Elite Eropa, tapi Terluka

Inter sempat kembali ke final pada 2023. Di Ataturk Olympic Stadium, mereka harus mengakui keunggulan Manchester City dengan skor 0-1. Rodri mencetak satu-satunya gol, sekaligus membawa City meraih treble bersejarah.
Meskipun kalah, performa Inter cukup terhormat. Mereka mampu menahan City sepanjang babak pertama dan bahkan memiliki beberapa peluang emas di babak kedua. Namun, keberuntungan tak berpihak.
Bagi Inter, kekalahan itu menyakitkan, tapi juga menyadarkan bahwa mereka telah kembali ke peta elite Eropa. Dua tahun berikutnya, mereka menjawab dengan satu kata: final.
Munchen 2025: Inter Membawa Warisan, Pengalaman, dan Keyakinan

31 Mei 2025 menjadi penentu. Di Allianz Arena, Inter akan berjuang di final Liga Champions ketujuh mereka. Simone Inzaghi, sang pelatih, mengejar gelar Eropa pertamanya sebagai pelatih setelah pernah meraihnya sebagai pemain Lazio di UEFA Super Cup 1999.
Henrikh Mkhitaryan juga membawa misi sejarah pribadi. Jika menang, dia akan menjadi pemain pertama yang menjuarai tiga kompetisi mayor Eropa dengan tiga klub berbeda.
Rekor Inter di Final European Cup/Liga Champions

Jejak Inter di final European Cup/Liga Champions (c) Infografis ini diolah menggunakan AI
Lawan mereka belum dipastikan, antara Arsenal atau PSG. Namun, siapa pun yang datang, Inter membawa warisan, pengalaman, dan keyakinan bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu—ia bisa jadi senjata di masa kini.
Baca Artikel-artikel Menarik Lainnya:
- Rapor Pemain Barcelona Saat Dikalahkan Inter Milan: Sudah Main Bagus, tapi Berujung Patah Hati
- Kontroversi Penalti Barcelona vs Inter: Mengapa Wasit Membatalkan Keputusan Saat Yamal Dilanggar?
- 4 Momen Kontroversial Laga Inter Milan vs Barcelona: Harusnya 3 Penalti dan Kartu Merah untuk Martinez?
- Barcelona Luar Biasa, tapi Inter Milan Punya Pahlawan-Pahlawan Tak Terduga
- Kisah Kemenangan Inter: Inzaghi Puji Mental Tim dan Kehebatan Frenkie De Jong
- Hansi Flick: Wasit Berpihak pada Inter Milan
Advertisement
Berita Terkait
-
Liga Inggris 29 Oktober 2026 22:18Manchester United Hidupkan Lagi Minat pada Bintang Berbakat Barcelona Ini
-
Liga Inggris 29 Oktober 2026 21:58Michael Carrick Tidak Terkejut Dirinya Tidak Jadi Dipecat Manchester United
LATEST UPDATE
-
Liga Inggris 29 Oktober 2026 22:18Manchester United Hidupkan Lagi Minat pada Bintang Berbakat Barcelona Ini
-
Liga Inggris 29 Oktober 2026 21:58Michael Carrick Tidak Terkejut Dirinya Tidak Jadi Dipecat Manchester United
BERITA LAINNYA
-
champions 27 Oktober 2026 15:49Ini Satu Hal yang Buat Lamine Yamal Kalah dari Harry Kane dalam Ballon d'Or 2026
-
champions 27 Oktober 2026 15:34Kacang Tidak Lupa Kulit! Ada Tottenham di Pidato Kemenangan Ballon d'Or Harry Kane!
-
champions 27 Oktober 2026 13:02Thomas Tuchel Kirim Pesan untuk Harry Kane usai Raih Ballon d'Or 2026
-
champions 27 Oktober 2026 12:59Harry Kane Raih Ballon d'Or 2026, Ingin Jadi Inspirasi bagi Generasi Berikutnya
-
champions 27 Oktober 2026 06:03PSG Pertahankan Gelar Men's Club of the Year di Ballon d'Or 2026
SOROT
-
Liputan6 29 Oktober 2026 22:11Prabowo Segera Resmikan 1.413 Titik Listrik Desa
-
Liputan6 29 Oktober 2026 21:45Rincian Bonus Atlet Asian Games dan Asian Para Games dari Prabowo
-
Liputan6 29 Oktober 2026 20:23Kubu Gibran Tunjukkan Riwayat Pendidikan, Penggugat Soroti Bukti Penyetaraan
-
Liputan6 29 Oktober 2026 19:55Prabowo Sebut Olahraga Jadi Simbol Kehormatan Bangsa
-
Liputan6 29 Oktober 2026 19:39Momen Massa Trisakti Bakar Flare Sebelum Bubarkan Diri
-
Liputan6 29 Oktober 2026 19:11Prabowo Tekankan Kedaulatan di UU Satu Data Indonesia
MOST VIEWED
Kacang Tidak Lupa Kulit! Ada Tottenham di Pidato Kemenangan Ballon d'Or Harry Kane!
Kylian Mbappe Sempat Pimpin Voting Ballon d'Or 2026, tetapi Kalah Tipis dari Harry Kane
PSG Pertahankan Gelar Men's Club of the Year di Ballon d'Or 2026
Thomas Tuchel Kirim Pesan untuk Harry Kane usai Raih Ballon d'Or 2026
HIGHLIGHT
Chelsea Rebut Morgan Rogers, Ini 5 Pemain yang Bis...
Gagal Dapat Michael Olise? Ini 5 Galactico Alterna...
7 Pemain Manchester United yang Wajib Bersinar di ...
8 Pemain Arsenal yang Berpotensi Dilepas untuk Dan...
5 Alternatif Lebih Murah dari Bradley Barcola yang...
Gagal Dapat Vinicius Junior? Ini 5 Winger yang Bis...
7 Transfer yang Bisa Dituntaskan Manchester United...
















:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309734/original/019415900_1785244482-1000390994.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385897/original/098515500_1793278230-IMG-20261029-WA0170.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385915/original/075393800_1793280225-IMG_0682.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385893/original/039717800_1793277580-254265.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385874/original/009652400_1793275898-Screenshot_20261029_183025_Instagram.jpg)
