FOLLOW US:


Esfandiar Baharmast - Melihat Apa Yang Tak Dilihat Jutaan Pasang Mata

27-03-2018 12:47
Esfandiar Baharmast - Melihat Apa Yang Tak Dilihat Jutaan Pasang Mata
© PA Images

Bola.net - Esfandiar Baharmast, dikenal pula dengan nama Esse Baharmast, adalah mantan wasit asal Amerika Serikat.

Namanya memang tak sepopuler wasit legendaris Italia, Pierluigi Collina. Namun Baharmast pernah mengambil sebuah keputusan berani di Piala Dunia 1998 yang telah mengubah kehidupannya.

Hingga kini, keputusan tersebut terus diakui sebagai salah satu keputusan terbaik yang pernah diambil oleh seorang wasit dalam sejarah sepakbola.

Keputusan itu sendiri awalnya dipandang sangat kontroversial. Baharmast sampai berada dalam masa-masa sulit di mana dia dibanjiri kecaman dari seluruh penjuru dunia.

Beruntung, keputusan itu ternyata terbukti benar. Mereka yang mulanya mengecam, kemudian meminta maaf.

Oleh majalah Referee, keputusan itu bahkan dimasukkan dalam "Best 18 Calls of All Time."

Baharmast sudah melihat apa yang tak dilihat oleh jutaan pasang mata. Begitulah mereka menyebutnya.


PIALA DUNIA 1998 PRANCIS
Norwegia tergabung di Grup A bersama juara bertahan Brasil, Maroko dan Skotlandia.

Pada laga pertama, Brasil mengalahkanb Skotlandia 2-1, sedangkan Norwegia dan Maroko bermain imbang 2-2. Brasil lalu memastikan kelolosan dengan kemenangan 3-0 atas Maroko di laga kedua. Norwegia lagi-lagi meraih hasil seri, kali ini 1-1 lawan Skotlandia.

Peluang Norwegia untuk lolos mendampingi Brasil terbilang cukup tipis. Pasalnya, di laga terakhir, mereka harus menghadapi Selecao. Sementara itu, saingan Norwegia, yakni Maroko, hanya melawan Skotlandia.

Norwegia mengawali laga penentuan di Stade Velodrome itu dengan buruk. Pada menit 78, Bebeto membobol gawang Norwegia dan membawa Brasil unggul 1-0. Di Saint-Etienne, Maroko sudah memimpin 2-0 atas Skotlandia.

Kegagalan mulai membayangi Norwegia. Namun para pemainnya menolak menyerah. Pada menit 83, Tore Andre Flo berhasil mengoyak gawang Brasil yang dikawal Claudio Taffarel dan menyamakan kedudukan. Itu belum cukup.

Norwegia butuh kemenangan. Di sisa waktu yang ada, mereka terus mencoba.

Pada menit 89, terjadilah insiden itu. Ditempel ketat oleh bek Brasil Junior Baiano, Flo terjatuh di dalam kotak terlarang. Baharmast menunjuk titik putih, memberi hadiah penalti untuk Norwegia. Dari gesture-nya, Baharmast mengisyaratkan kalau Baiano menarik jersey Flo.

Para penonton terkejut, seolah tak percaya, baik yang berada di dalam stadion maupun jutaan pasang mata lainnya yang menyaksikan lewat layar televisi. Tak ada yang tahu kenapa Baharmast meniup peluit, karena Baiano tak terlihat menyentuhnya.

Kjetil Rekdal maju sebagai algojo dan menyukseskan penalti itu. Norwegia berbalik menang 2-1.

Di tempat lain, Maroko akhirnya menang 3-0 atas Skotlandia. Namun kemenangan itu terasa getir, karena Norwegia juga menang. Maroko finis peringkat tiga dengan selisih satu poin di belakang Norwegia, yang lolos mendampingi Brasil.



Setelah pertandingan, yang terjadi bisa diduga. Media-media dari seluruh dunia menyerang Baharmast.

Beberapa orang beranggapan kalau pertandingan ini sudah diatur. Tak sedikit pula yang berasumsi bahwa orang Amerika, yang tergolong 'baru' di bidang sepakbola, belum cukup pantas untuk menjadi wasit pertandingan sekelas Piala Dunia.

Salah satu media di Maroko bahkan memasang headline bertajuk "Norwegia diselamatkan wasit."



Meski begitu, Baharmast dengan tegas mengatakan kalau keputusannya itu benar. "Saya berada hanya sekitar lima meter, melihat lurus ke sana. Bagi saya, tak ada keraguan. Itu sangat jelas. Meski diulang sepuluh kalipun, saya akan tetap mengambil keputusan yang sama."

Masalahnya, dari tayangan ulang televisi yang ada waktu itu, tak terlihat jelas pelanggaran seperti yang disebutkan oleh Baharmast. Semakin dilihat, semakin gencar cacian dan tuduhan bahwa Baharmast hanya mengada-ada.

Lihat salah satu cuplikannya berikut ini.



Sepertinya cuma Baharmast yang melihat insiden tersebut. Tak ada bukti yang mendukung keputusannya.

Baharmast merasa seolah seluruh dunia memusuhinya. Itu ibarat mimpi buruk baginya. Keluarga dan orang-orang dekat berusaha membantunya agar tetap tegar, tapi itu tidak mudah.

Tak sia-sia Baharmast berpegang teguh pada pendiriannya.

Beberapa hari berselang, salah satu stasiun televisi Swedia me-review rekaman yang mereka ambil dari pertandingan itu. Mereka sadar kalau ternyata mereka memiliki rekaman dari sudut pandang yang tak dimiliki televisi-televisi lain.

Rekaman itu mereka ambil dari kamera di belakang gawang. Dari kamera itu, terlihat jelas kalau Baiano memang menarik jersey Flo sebelum dia melompat. Itu jelas-jelas sebuah penalti.

Berikut cuplikan lengkapnya.



Mereka lalu mengirimkan rekaman itu ke stasiun televisi Norwegia, yang kemudian menayangkannya ke seluruh dunia. Komite wasit FIFA juga melihat bukti rekaman tersebut dan menyatakan kalau Baharmast sudah mengambil keputusan yang benar.

Baharmast akhirnya bisa bernapas lega. Hilang sudah semua beban dari pundaknya.




Berikutnya, permintaan maaf dari seluruh dunia pun berdatangan.

"Ya, itu penalti. Wasit tidak salah," ulang para komentator di stasiun-stasiun televisi yang meng-cover cerita ini. "Maaf, Mr. Baharmast," tulis media-media internasional di headline mereka.

"Kami salah. Kami minta maaf pada Monsieur Baharmast," tulis surat kabar Le Monde yang berbasis di Paris.

Sementara itu, mereka yang tidak berani meminta maaf memilih mengungkapkan fakta ini dan melontarkan pujian untuk Baharmast. Dia sudah melihat sesuatu yang tak ditangkap oleh belasan kamera (kecuali satu), dan tak dilihat oleh jutaan pasang mata lainnya. (bola/gia)