Akhir Era Xabi Alonso: Ketika Filosofi Kalah Melawan Ego Bintang Real Madrid

Akhir Era Xabi Alonso: Ketika Filosofi Kalah Melawan Ego Bintang Real Madrid
Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso. (c) AP Photo/Joan Monfort

Bola.net - Bulan madu itu berakhir tragis dan brutal. Hanya 24 jam setelah kekalahan menyakitkan 2-3 dari rival abadi Barcelona di final Supercopa de Espana, Real Madrid resmi mendepak Xabi Alonso dari kursi pelatih, Selasa (13/1/2026) dini hari WIB.

Keputusan ini menjadi puncak dari ketidaksabaran manajemen Los Blancos. Padahal, Alonso didatangkan dengan status pelatih paling diburu di Eropa usai membawa Bayer Leverkusen juara Bundesliga tanpa terkalahkan.

Namun, Santiago Bernabeu memiliki hukumnya sendiri. Reputasi masa lalu dan status legenda klub semasa bermain tidak menjadi jaminan kekebalan.

Alvaro Arbeloa, pelatih Real Madrid Castilla yang dikenal setia menjaga "DNA Madrid", langsung ditunjuk sebagai pengganti untuk membereskan kekacauan ini.

1 dari 3 halaman

Ilusi Awal Musim yang Menipu

Ilusi Awal Musim yang Menipu

Starting XI Real Madrid berpose sebelum kick off melawan Atletico Madrid di Piala Super Spanyol 2026 yang digelar di King Abdullah Sports City Stadium. (c) AP Photo/Altaf Qadri

Pemecatan ini terasa mengejutkan jika melihat start Alonso yang sebenarnya tidak buruk di atas kertas. Hingga awal November 2025, Madrid sempat memimpin klasemen La Liga dengan keunggulan lima poin dan memenangkan El Clasico pertama musim ini dengan skor 2-1.

Kala itu, Alonso tampak berhasil. Kemenangan telak 4-0 atas Valencia di kandang semakin mengukuhkan dominasi awal, di mana Madrid memenangkan 13 dari 14 laga pembuka di semua kompetisi.

Namun, di balik angka-angka tersebut, keretakan mulai terlihat. Rentetan enam laga tandang berturut-turut menjadi titik balik, dimulai dengan kekalahan dari Liverpool dan hasil imbang tanpa gol melawan Rayo Vallecano.

Situasi makin runyam ketika Madrid menelan kekalahan kandang dari Celta Vigo dan Manchester City dalam kurun waktu empat hari di bulan Desember.

Bagi Presiden Florentino Perez, kalah di kandang dari tim sekelas Celta Vigo bukan sekadar hasil buruk—itu adalah penghinaan terhadap institusi.

Dalam konferensi pers sebelum kekalahan melawan Man City, Alonso sempat mencoba meredam gejolak dengan retorika optimis.

"Kita semua berada di perahu yang sama. Kita harus melewati masa-masa positif dan negatif," tegas Alonso kala itu, mencoba bertahan di tengah badai kritik.

Ia menambahkan dengan penuh harap: "Kita perlu percaya bahwa pertandingan berikutnya adalah kesempatan... Ikatan emosional (dengan fans) sangat penting untuk besok."

Sayangnya, ikatan emosional itu putus lebih cepat dari dugaan.

Pertandingan Selanjutnya
La Liga La Liga | 17 Januari 2026
Real Madrid Real Madrid
20:00 WIB
Levante Levante
2 dari 3 halaman

Kompromi Taktik yang Membingungkan

Kompromi Taktik yang Membingungkan

Selebrasi Jude Bellingham dkk. dalam laga La Liga antara Real Madrid vs Sevilla, Minggu (21/12/2025). (c) AP Photo/Manu Fernandez

Salah satu alasan utama kegagalan Alonso adalah ketidakmampuannya menerapkan filosofi yang membuatnya sukses di Jerman. Di Leverkusen, ia memuja formasi 3-4-2-1 yang disiplin.

Di Madrid, sistem itu berbenturan dengan ego dan kebiasaan para pemain bintang. Alonso terpaksa melakukan kompromi dengan menerapkan varian 4-2-3-1, namun hasilnya justru terlihat setengah matang.

Kekalahan di final Supercopa melawan Barcelona menjadi bukti paling telanjang. Madrid didominasi total, hanya memegang 29% penguasaan bola, dan tampak kalah kelas di segala lini.

Media Spanyol, AS, melaporkan bahwa dalam pertemuan pemecatannya di Valdebebas, Alonso sendiri mengakui adanya "kelelahan dengan situasi yang ada".

3 dari 3 halaman

Friksi Ruang Ganti: Vinicius dan Bayang-Bayang Galactico

Friksi Ruang Ganti: Vinicius dan Bayang-Bayang Galactico

Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso berjabat tangan dengan Vinicius Junior. (c) AP Photo/Pablo Garcia

Masalah taktik diperparah dengan kegagalan Alonso memenangkan hati para "raja kecil" di ruang ganti. Berbeda dengan Carlo Ancelotti atau Zinedine Zidane yang ahli memijat ego pemain bintang, pendekatan Alonso dinilai kaku.

Isu ketidakharmonisan dengan Vinicius Junior menjadi rahasia umum. Hubungan keduanya dilaporkan dingin, bahkan pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone, sempat menyindir Vinicius terkait statusnya yang memudar di Bernabeu pada laga semifinal.

Bukan hanya Vinicius, Trent Alexander-Arnold yang didatangkan sebagai rekrutan bintang juga tersisih, hanya menjadi starter dalam lima laga La Liga. Federico Valverde justru lebih sering dipasang menambal posisi bek kanan.

Kylian Mbappe praktis memikul beban serangan sendirian di tengah kemarau gol Vinicius dan Rodrygo. Ketika sebuah sistem menuntut kolektivitas namun pemain menuntut kebebasan individu, pelatih adalah sosok pertama yang akan dikorbankan.

Kini, Arbeloa masuk dengan tugas klasik: melupakan taktik rumit, mengembalikan kenyamanan pemain bintang, dan berharap "sihir" Bernabeu kembali bekerja.