Sir Alex Ferguson Sindir Arsenal Usai Kalah dari PSG di Final Liga Champions: Mereka Hanya Bertahan

Ari Prayoga | 1 Juni 2026 06:31
Sir Alex Ferguson Sindir Arsenal Usai Kalah dari PSG di Final Liga Champions: Mereka Hanya Bertahan
Ekspresi pemain Arsenal usai kalah adu penalti dari PSG di final Liga Champions 2025/2026 (c) AP Photo/Andreea Alexandru

Bola.net - Kekalahan Arsenal di final Liga Champions masih menjadi bahan perbincangan hangat di dunia sepak bola. Setelah gagal mengangkat trofi usai takluk dari PSG lewat adu penalti, The Gunners kini mendapat kritik tajam dari sosok yang sudah lama menjadi rival mereka, Sir Alex Ferguson.

Mantan manajer legendaris Manchester United itu dikabarkan melontarkan komentar pedas mengenai pendekatan permainan Arsenal saat menghadapi PSG di partai puncak kompetisi elite Eropa tersebut.

Advertisement

Menurut laporan media Prancis, L'Equipe, Ferguson mengirim pesan kepada Presiden PSG, Nasser Al-Khelaifi, untuk mengucapkan selamat atas keberhasilan klub asal Paris itu meraih gelar Liga Champions. Namun di balik ucapan selamat tersebut, terselip kritik terhadap performa Arsenal yang dinilai terlalu defensif.

Ferguson disebut menilai PSG sebagai satu-satunya tim yang benar-benar berusaha memainkan sepak bola di final tersebut. Sumber yang dekat dengan Qatar Sports Investments bahkan mengungkap bahwa eks pelatih Setan Merah itu memuji permainan PSG dengan mengatakan, “Kalian adalah tim yang bermain sepak bola.”

L’Equipe sempat menyebut Ferguson menyebut Arsenal sebagai tim yang “membosankan”. Meski demikian, pihak yang dekat dengan pemilik PSG membantah penggunaan kata tersebut dan menegaskan bahwa fokus Ferguson lebih kepada pujian terhadap gaya bermain PSG.

1 dari 4 halaman

Statistik Buruk Arsenal di Final

Statistik Buruk Arsenal di Final

Reaksi bek Arsenal, Gabriel Magalhaes usai gagal menjalankan tugas di adu penalti melawan PSG di final Liga Champions 2026. (c) AP Photo/Andreea Alexandru

Kritik Ferguson tidak muncul tanpa alasan. Secara statistik, Arsenal memang tampil jauh di bawah dominasi PSG sepanjang pertandingan.

Pasukan Mikel Arteta hanya menguasai 24,7 persen bola, angka terendah dalam sejarah final Liga Champions sejak data penguasaan bola mulai dicatat secara resmi. Bahkan gol pembuka yang dicetak Kai Havertz menjadi satu-satunya tembakan tepat sasaran Arsenal sepanjang pertandingan.

Selama 120 menit bermain, Arsenal hanya melepaskan tujuh percobaan tembakan. Lima di antaranya berhasil diblok pemain PSG, sementara dua lainnya gagal memberikan ancaman berarti.

Situasi tersebut membuat kiper PSG, Matvey Safonov, praktis menjalani malam yang relatif tenang. Bahkan saat adu penalti, ia tidak perlu melakukan penyelamatan karena dua eksekutor Arsenal, Eberechi Eze dan Gabriel, gagal mengarahkan bola ke gawang.

2 dari 4 halaman

Joao Neves: Hanya Ada Satu Tim yang Bermain

Joao Neves: Hanya Ada Satu Tim yang Bermain

Selebrasi Joao Neves usai kemenangan PSG atas Arsenal di final Liga Champions 2025/2026, 30 Mei 2026. (c) AP Photo/Armin Durgut

Pandangan Ferguson ternyata sejalan dengan apa yang dirasakan gelandang PSG, Joao Neves.

Pemain muda Portugal itu menilai timnya tampil jauh lebih dominan dan pantas keluar sebagai juara. Menurutnya, PSG adalah satu-satunya tim yang berusaha mengendalikan permainan sejak awal hingga akhir laga.

“Kami pantas mendapatkan gelar ini. Saya hanya melihat satu tim di lapangan. Kami menciptakan peluang, menguasai bola lebih banyak, dan bermain lebih baik,” ujar Neves.

Komentar tersebut semakin mempertegas narasi bahwa PSG tampil lebih proaktif, sementara Arsenal lebih banyak menunggu dan bertahan.

3 dari 4 halaman

Arteta Akui Sangat Terpukul

Arteta Akui Sangat Terpukul

Mikel Arteta menghibur Eberechi Eze usai kegagalan di final Liga Champions 2025/2026 (c) AP Photo/Petr Josek

Di sisi lain, Mikel Arteta tidak menutupi rasa kecewanya setelah gagal membawa Arsenal meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub.

Pelatih asal Spanyol itu mengakui timnya merasakan sakit yang luar biasa karena sudah begitu dekat dengan kesempatan meraih gelar Eropa sekaligus melengkapi musim dengan prestasi besar.

Namun, jika melihat sejarah panjang persaingan antara Arsenal dan Manchester United, Arteta tampaknya tidak akan mendapatkan banyak simpati dari Ferguson.

4 dari 4 halaman

Rivalitas Panjang Ferguson dan Arsenal

Rivalitas Panjang Ferguson dan Arsenal

Mantan pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson saat menghadiri Cheltenham Festival di Cheltenham, 13 Maret 2026. (c) AP Photo/Dave Shopland

Hubungan Ferguson dengan Arsenal memang selalu diwarnai tensi tinggi sejak era akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Saat itu, Arsenal yang dilatih Arsene Wenger menjadi pesaing utama Manchester United dalam perebutan gelar Liga Inggris.

Perseteruan keduanya melahirkan banyak momen ikonik. Ferguson pernah menyebut Wenger sebagai “novice” atau pelatih pemula ketika hubungan mereka memanas.

Tak hanya perang kata-kata, rivalitas tersebut juga memunculkan insiden terkenal “Battle of the Buffet” pada 2004. Dalam keributan di lorong stadion setelah Manchester United mengakhiri rekor 49 pertandingan tak terkalahkan Arsenal, Ferguson bahkan terkena lemparan potongan pizza di wajahnya.

LATEST UPDATE