Piala Dunia 2026 dan Fenomena Pemain Diaspora: Mengapa Banyak Bintang Membela Negara yang Bukan Tempat Lahirnya?

Richard Andreas | 17 Juni 2026 11:00
Piala Dunia 2026 dan Fenomena Pemain Diaspora: Mengapa Banyak Bintang Membela Negara yang Bukan Tempat Lahirnya?
Para pemain Timnas Curacao usai laga melawan Timnas Jerman di Piala Dunia 2026 (c) AP Photo/Eric Smith

Bola.net - Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi panggung persaingan antarnegara, tetapi juga cerminan bagaimana migrasi membentuk sepak bola modern.

Di balik setiap seragam tim nasional, tersimpan kisah keluarga, perpindahan lintas benua, hingga pilihan identitas yang tidak selalu sederhana.

Advertisement

Fenomena pemain diaspora semakin terlihat jelas di turnamen kali ini. Dari Senegal hingga Curacao, ratusan pemain justru lahir di negara yang berbeda dengan tim nasional yang mereka wakili.

Jumlahnya pun sangat besar. Dari total 1.248 pemain yang tampil di Piala Dunia 2026, sebanyak 292 di antaranya lahir di luar negara yang mereka bela.

1 dari 5 halaman

Dari George Moorhouse Hingga Generasi Modern

Dari George Moorhouse Hingga Generasi Modern

Opening ceremony Piala Dunia 2026 (c) AP Photo/Eduardo Verdugo

Fenomena pemain kelahiran luar negeri sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah Piala Dunia. Bahkan sejak edisi pertama pada 1930, sudah ada pemain yang membela negara berbeda dari tanah kelahirannya.

George Moorhouse menjadi contoh paling awal. Penyerang kelahiran Liverpool itu tercatat sebagai pemain Inggris pertama yang tampil di Piala Dunia, tetapi bukan bersama Inggris. Ia memperkuat Amerika Serikat pada turnamen perdana tersebut.

Moorhouse bermigrasi ke Kanada pada 1923 sebelum menetap di Amerika Serikat. Dalam skuad Amerika yang finis di posisi ketiga bersama itu, terdapat pula lima pemain kelahiran Skotlandia yang memenuhi syarat membela Stars and Stripes karena riwayat migrasi keluarga mereka.

Hampir satu abad kemudian, pola serupa masih terlihat. Hubungan kolonial, perpindahan penduduk, dan keturunan lintas negara terus membentuk wajah sepak bola internasional.

2 dari 5 halaman

Prancis Jadi Sumber Terbesar Pemain Diaspora

Prancis Jadi Sumber Terbesar Pemain Diaspora

Selebrasi Kylian Mbappe dkk. dalam laga Prancis vs Senegal di Grup I Piala Dunia 2026, Rabu (17/6/2026). (c) AP Photo/Frank Franklin II

Salah satu contoh paling mencolok di Piala Dunia 2026 adalah Prancis. Negara tersebut memiliki 98 pemain kelahiran Prancis yang tampil di turnamen.

Menariknya, 76 di antaranya justru membela negara lain. Angka itu menjadi yang tertinggi dibanding negara mana pun di Piala Dunia tahun ini.

Senegal menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dengan 10 pemain kelahiran Prancis dalam skuad mereka. Namun, Senegal bukan yang terbanyak.

Aljazair memiliki 13 pemain kelahiran Prancis, sementara Haiti memiliki 12. Pantai Gading dan Republik Demokratik Kongo juga banyak diperkuat pemain yang lahir di wilayah Prancis.

Contoh lain muncul saat Swedia menghadapi Tunisia. Gelandang Brighton, Yasin Ayari, yang lahir di Swedia dari ayah asal Tunisia, bahkan memilih tidak merayakan gol pertamanya ke gawang negara asal keluarganya.

Situasi serupa juga akan terlihat ketika Prancis berhadapan dengan Senegal. Banyak pemain Senegal lahir dan berkembang di Prancis sebelum memilih membela negara leluhur mereka.

3 dari 5 halaman

Curacao dan Tim-Tim Paling Multinasional

Curacao dan Tim-Tim Paling Multinasional

Starting XI Timnas Curacao saat melawan Jerman di laga Piala Dunia 2026, 15 Juni 2026. (c) AP Photo/Karen Warren

Di antara seluruh peserta Piala Dunia 2026, Curacao menjadi tim dengan jumlah pemain kelahiran luar negeri terbanyak.

Negara kepulauan Karibia yang masih berada dalam Kerajaan Belanda itu hampir sepenuhnya diperkuat pemain kelahiran Belanda. Hanya satu pemain dalam skuad mereka yang tidak lahir di Negeri Kincir Angin.

Tim tersebut juga ditangani pelatih asal Belanda, Dick Advocaat. Sebagian besar pemain memiliki keterkaitan dengan Rotterdam, kota pelabuhan yang sejak lama menjadi salah satu gerbang utama migrasi di Eropa.

Meski begitu, Curacao bukan satu-satunya contoh. Maroko bahkan pernah menurunkan sebelas pemain yang semuanya lahir di luar negeri saat menghadapi Brasil.

Sementara itu, skuad Qatar menampilkan pemain yang lahir di 11 negara berbeda, termasuk Aljazair, Belgia, Brasil, Mesir, Prancis, Ghana, Portugal, Senegal, Somalia, Sudan, dan Tunisia.

Format baru Piala Dunia yang diikuti 48 negara juga memperluas keberagaman tersebut. Banyak pemain lahir di negara-negara yang bahkan gagal lolos ke putaran final, seperti Kamerun, Denmark, dan Italia.

4 dari 5 halaman

Bagaimana Aturan FIFA Menentukan Kelayakan Pemain?

Bagaimana Aturan FIFA Menentukan Kelayakan Pemain?

Starting XI Tanjung Verde dalam laga versus Spanyol di fase grup Piala Dunia 2026, Senin (15/6/2026). (c) AP Photo/Erik S. Lesser

Dasar utama aturan FIFA adalah kewarganegaraan. Seorang pemain hanya dapat mewakili negara yang kewarganegaraannya ia miliki.

Biar begitu, kepemilikan paspor saja tidak selalu cukup. FIFA juga mengharuskan adanya hubungan yang nyata dengan negara tersebut, baik melalui kelahiran, keturunan, maupun masa tinggal.

Sebagai contoh, pemain berkewarganegaraan Prancis dan Senegal dapat membela Senegal jika memenuhi salah satu syarat berikut: lahir di Senegal, memiliki orang tua atau kakek-nenek yang lahir di Senegal, atau tinggal di negara tersebut dalam jangka waktu tertentu.

Aturan ini terus mengalami perubahan selama dua dekade terakhir. Sebelum 2004, pemain yang pernah tampil di level junior untuk suatu negara praktis terikat seumur hidup dengan federasi tersebut.

Federasi Sepak Bola Aljazair kemudian melobi FIFA agar aturan itu diubah. Hasilnya, pemain yang memiliki dua kewarganegaraan diberi kesempatan melakukan perpindahan asosiasi satu kali selama memenuhi syarat tertentu.

Perubahan berikutnya terjadi pada 2009 dan kembali diperbarui pada 2020. Regulasi terbaru memungkinkan pemain yang tampil maksimal tiga kali dalam pertandingan kompetitif senior sebelum usia 21 tahun untuk berpindah negara setelah menunggu tiga tahun, selama mereka tidak pernah bermain di putaran final turnamen besar.

Kasus Munir El Haddadi menjadi salah satu faktor penting di balik perubahan tersebut. Penyerang kelahiran Spanyol berdarah Maroko itu sempat ditolak saat ingin berpindah federasi sebelum akhirnya mendapatkan persetujuan bertahun-tahun kemudian.

5 dari 5 halaman

Perburuan Pemain Diaspora Semakin Canggih

Mencari pemain diaspora kini menjadi pekerjaan khusus di banyak federasi sepak bola.

Beberapa negara bahkan memiliki pencari bakat yang tugas utamanya hanya menemukan pemain dengan kemungkinan memenuhi syarat membela tim nasional tertentu.

Metodenya sangat beragam. Mulai dari memantau database Transfermarkt, berkomunikasi dengan agen dan keluarga pemain, mengikuti grup WhatsApp, hingga mengawasi akun-akun media sosial yang membahas asal-usul pemain.

Bahkan gim simulasi Football Manager ikut berperan dalam proses tersebut. Basis data gim itu mencantumkan tempat lahir serta latar belakang keluarga pemain sehingga sering menjadi sumber informasi awal bagi federasi.

Salah satu contoh terkenal adalah Ben Brereton Diaz. Kampanye agar pemain kelahiran Inggris itu membela Chile bermula setelah seorang kreator konten Chile mengetahui latar belakang keluarganya melalui Football Manager.

Cerita unik lainnya datang dari Kanada. Bek Alfie Jones baru menyadari peluang membela Kanada setelah mengobrol santai di sauna bersama Liam Millar, yang kemudian meneruskan informasi itu kepada pelatih Kanada Jesse Marsch.

Sementara bek tengah Kanada, Luc de Fougerolles, terhubung dengan federasi berkat langkah ayahnya yang menghubungi pelatih Mauro Biello melalui LinkedIn.

Meski proses administrasi dan regulasi terus berkembang, keputusan membela suatu negara sering kali jauh lebih personal daripada sekadar memenuhi syarat FIFA.

Federasi-federasi kini tidak hanya menawarkan kesempatan bermain di level internasional. Mereka juga berusaha membangun hubungan emosional dengan pemain dan keluarganya.

LATEST UPDATE